APPTIS Menebar Kasih di Bumi Majene-Mamuju dan Banjarmasin

Serangkaian gempa bumi terjadi akibat aktivitas sesar Mamuju-Majene di Sulawesi Barat. Aktivitas tersebut mengakibatkan mekanisme pergerakan naik (thrust-fault) yang menimbulkan serangkaian gempa. Gempa pertama terjadi pada tanggal 14 Januari dengan kekuatan 5,9 skala Richter, yang diikuti dengan main shockberkekuatan 6,2 skala Richter.
Sampai tanggal 21 Januari, BMKG mencatat terdapat lebih dari 50 kali gempa yang terjadi dengan kekuatan yang bervariasi,sementara BNPB mencatat korban meninggal mencapai 91 orang meninggal, dan lebih dari 9 ribu jiwa mengungsi. Semua korban mengalami trauma serta krisis sandang, pangan, dan papan. Bencana alam lain terjadi di Kalimantan Selatan. Tingginya curah hujan selama 10 hari berturut-turut menyebabkan sungai Barito tidak dapat menampung luapan air sehingga menimbulkan banjir di 10 Kabupaten dan Kota. Tercatat 21 orang meninggal dunia, dan lebih dari 60 ribu jiwa mengungsi. Masing-masing bencana alam menimbulkan kerusakan fisik yang sangat parah.
Berbagai bantuan mengalir dari pemerintah maupun swasta, dari organisasi maupun per seorangan. APPTIS sebagai organisasi kepustakawanan di bawah Kementrian Agama juga tidak mau ketinggalan. APPTIS membuka dompet donasi dan menjadi fasilitatoruntuk membantu saudara-saudara sebangsa yang sedang hidup prihatin dan serba kekurangan di tempat pengungsian. Dana donasi yang terkumpul disalurkan di lokasi bencana oleh duta-duta APPTIS di masing-masing wilayah. Bapak Muhammad Danial S.Hum dari Perpustakaan STAIN Majene, dan ibu Laila Rahmawati, M.Hum dari UIN Banjarmasin, memimpin staf perpustakaannya dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, langsung menyalurkan bantuan ke lokasi-lokasi bencana.
Penyaluran donasi yang dilakukan oleh para duta APPTIS secara langsung ke korban-korban mendapatkan sambutan hangat dan apresiasi dari para korban bencana alam. Senyum bahagia yang terukir, dan rasa terima kasih yang disampaikan menyiratkan apresiasi terhadap semua bentuk bantuan. Semoga ketulusan dari para donatur dan kesigapan APPTISdapat meringankan beban hidup para korban.

Musyawarah Nasional Ke-4 APPTIS : Rekonsolidasi untuk Mencapai Tujuan Bersama

Pada Hari Senin, 21 Desember 2020, Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) bekerjasama dengan Perpustakaan UIN Antasari Banjarmasin mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) yang ke-4 via daring (online) yang diikuti oleh 102 orang peserta. Proses Musyawarah Nasional yang diadakan dari jam 9 pagi ini dilaksanakan sebagai media penyampaian Laporan Pertanggungjawaban kepengurusan APPTIS Periode 2017-2020, sekaligus memilih Ketua Umum yang baru. Konsolidasi Panitia dan Pengurus aktif dilakukan via WAG Pra Munas APPTIS yang dimatangkan saat persiapan dan gladi pada hari Minggu, 20 Desember 2020 jam 19.00 WIB juga melalui daring.
Yang spesial dari Munas ke 4 ini adalah diperdengarkan untuk pertama kalinya Mars APPTIS yang diciptakan oleh Zian, putra dari Kepala Perpustakaan IAIN Kudus, Ibu Anisa Listiana. Pada sambutan Munasnya, Dra. Labibah Zain, M.Lis. sebagai Ketua Umum APPTIS 2017-2020 menegaskan pentingnya peranan APPTIS di dalam menyuarakan keresahan, mengekspresikan kreativitas, dan saling menguatkan terutama pada saat pandemi, saling menginspirasi, saling melihat kebijakan satu sama lain, untuk tetap melayani civitas akademika dengan baik. APPTIS juga melakukan berbagai advokasi, khususnya pada permasalahan-permasalahan keperpustakaan dan kepustakawanan demi menunjang esensi keberadaan perpustakaan sebagai solusi riset di PTKIN. Usaha-usaha APPTIS antara lain adalah pengajuan draft PMA yang telah ditindaklanjuti oleh Direktorat, pengajuan grand design Perpustakaan PTKIN, mengadvokasi akses turnitin ke seluruh PTKIN dari anggaran Kementrian Agama, membangun repository dan pathfinder khusus PTKIN.

Sambutan dan pembukaan Musyawarah kemudian disampaikan oleh Prof Dr. Mujiburrahman, MA. Rektor UIN Antasari Banjarmasin. Pak Rektor menyampaikan apresiasi terhadap kiprah dan prestasi APPTIS. Dan berharap agar APPTIS dapat memaksimalkan peranannya dalam optimalisasi sumber-sumber informasi dan layanan-layanan digital di dalam situasi pandemi karena keterbatasan layanan tatap muka akademisi. Optimalisasi sumber-sumber informasi (rekaman perkuliahan) yang dilakukan via zoom, Google meet, maupun Learning Management System (LMS) di berbagai PTKIN agar dapat digunakan kembali oleh para mahasiswa lintas PTKIN yang membutuhkan informasi serupa. APPTIS juga bisa mengoptimalisasikan sumber-sumber informasi berupa podcast yang sedang trend misalnya berbagai rekaman talkshow, penerbitan buku baru dan lain sebagainya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan launching buku APPTIS yang berjudul “Kreatif atau mati” oleh Ketua Bidang Pengembangan SDM, ibu Ulfah Handayani. Dalam pengantarnya, bu Ulfah memaparkan realitas bahwa masa pandemi Covid-19 yang telah menjadi ajang pembuktian eksistensi perpustakaan dan pustakawan melalui kreativitas dan inovasi di dalam keterbatasan. Buku “Kreatif atau Mati” adalah karya yang merekam bentuk kreativitas dan inovasi perpustakaan dan pustakawan PTKIN dalam memberikan layanan kepada sivitas akademika. Buku ini berisi 19 artikel dan dieditori oleh Labibah Zein, Wiji Suwarno, serta Ulfah Andayani. Di akhir penjelasan, bu Ulfah menyampaikan harapan agar buku ini dapat memberikan manfaat dan menjadi inspirasi bagi pustakawan untuk menghasilkan karya-karya yang lebih produktif untuk kemajuan PTKIN di masa mendatang.
Sambutan yang tak kalah pentingnya juga disampaikan oleh Bapak Sekretaris Jenderal Kementrian Agama, Prof. Dr. Nizar Ali, MA. Pak Sekjend mengapresiasi dan memberikan penghargaan kepada seluruh pustakawan dan perpustakaan untuk tetap berkiprah secara aktif di masa pandemi dan menjadi bagian integral di dalam urusan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat di berbagai kampus PTKIN di lingkungan Kementerian Agama. Tentu hal ini tidak lepas dari peran APPTIS yang selalu melakukan koordinasi sedemikian rupa sehingga saling menguatkan, saling belajar, saling memberikan inspirasi kepada yang lainnya. Ada tiga hal yang ditekankan oleh pak Sekjend, yaitu pentingnya perpustakaan dalam memiliki (1) SDM yang qualified dengan pendidikan, (2) peningkatan kompetensi melalui pelatihan, seminar, workshop, bahkan shortcourse ke luar negeri. SDM perpustakaan yang kompeten, unggul, dan kreatif yang bisa selalu mencari solusi dalam semua persoalan, cepat merespon perkembangan zaman inline dengan arahan Presiden RI, yaitu SDM unggul. Peningkatan SDM juga ditujukan untuk mendukung tujuan Pendis ke depan dalam memiliki daya saing nasional di tahun 2024, daya saing regional minimal ASEAN di tahun 2029, dan daya saing Internasional di tahun 2034. Terakhir, pak Sekjend menekankan pemanfaatan berbagai electronic resources yang bisa digunakan oleh semua civitas akademika sehingga dapat men-support kualitas berbagai karya intelektual. Terkait dengan asosiasi, pak Sekjend berharap agar APPTIS bisa terus mensinergikan berbagai kekuatan-kekuatan yang ada untuk memperkuat hal-hal yang ditekankan di atas. Pak Sekjend menghargai berbagai terobosan, inovasi, dan kreativitas yang sudah dilakukan APPTIS dan memotivasi kegiatan-kegiatan yang perlu ditindaklanjuti. Pak Sekjend menutup sambutan dengan menyampaikan harapannya bahwa keberadaan perpustakaan-perpustakaan PTKIN dapat menjadi solusi dari semua permasalahan civitas akademika dalam mencari referensi riset, serta melakukan berbagai bimbingan di dalam penerbitan dan diseminasi hasil penelitian.
Setelah sambutan bapak Sekjend, APPTIS mulai melakukan proses Munas yang dipimpin oleh Bapak Komarudin, M.Hum. Kepala Perpustakaan IAIN Kediri yang bertindak sebagai Ketua Sidang. Sebelum memulai proses Munas, ketua sidang lebih dulu memeriksa keterpenuhan kuorum. Selanjutnya Ketua Sidang mengawali sidang dengan membacakan rancangan Tata tertib Munas ke 4 APPTIS untuk ditetapkan menjadi Tata Tertib Munas ke 4. Setelah penetapan Tata Tertib, Ketua Sidang mempersilahkan Ketua Umum untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban dalam kepengurusan APPTIS Periode 2017-2020. Satu persatu kegiatan dari program kerja yang berhasil dilakukan dan kendala-kendala saat program tidak bisa dilakukan dengan baik, dibahas dan dijelaskan oleh Ketua Umum APPTIS Dra. Labibah Zain, M.Lis. Laporan pertanggungjawaban dikhiri dengan penyampaian kondisi anggaran APPTIS oleh Bendahara Umum APPTIS, ibu Sri Astuti, M.IP. Saat Laporan pertanggungjawaban diterima oleh forum, Ketua dan seluruh jajaran kepengurusan APPTIS periode 2017-2020 kemudian dinyatakan demisioner.
Selanjutnya, Ketua sidang memimpin proses pemilihan Ketua baru. Proses pemilihan didahului dengan mengeluarkan peserta Munas yang bukan Kepala ke Waiting room, sehingga menyisakan 37 orang Kepala Perpustakaan yang memiliki hak suara di room. Dari 6 orang Calon Ketua APPTIS yang terjaring dari penyebaran google form pemilihan Bakal Calon Ketua APPTIS yang dilakukan 19-20 Desember, ternyata 50% suara tetap menginginkan Bu Labibah sebagai Ketua Umum APPTIS untuk periode selanjutnya. Sidang juga membentuk Tim Formatur, yang terdiri dari 8 orang perwakilan dari berbagai unsur.
Kegiatan Munas ditutup dengan sambutan ketua terpilih, ibu Dra. Labibah Zain, M.Lis. yang mengharapkan peran serta dan kerjasama teman-tema lainnya untuk membantu APPTIS agar dapat lebih keras bersuara sehingga lebih bisa didengar dan diperhitungkan. Kelemahan teknis dari bu Ketua diharapkan dapat ditutupi oleh para pengurus APPTIS selanjutnya. Tim formatur diharapkan dapat bekerja keras dan berkomitmen di sela-sela kesibukannya mengurusi internal perpustakaan masing-masing. Sehingga APPTIS dan Perpustakaan dapat menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pengembangan PTKIN ke depan.

Reported by Rika

Pustakawan anggota APPTIS ikuti kursus musim panas FSCI 2019 di UCLA

Salah satu pustakawan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang juga merupakan anggota APPTIS, Ari Zuntriana, berkesempatan memperoleh beasiswa untuk mengikuti kursus musim panas bidang komunikasi ilmiah di kampus University of California Los Angeles (UCLA). Kursus ini merupakan hasil kerjasama antara FORCE11 dan kampus UCLA. FORCE11 merupakan lembaga non pemerintah yang bergerak dalam pengembangan komunikasi ilmiah. Organisasi ini berkedudukan di San Diego, California.

Dalam kegiatan ini, Ari mengikuti tiga kelas, yaitu penerapan prinsip FAIR dalam pengelolaan data riset, penerapan Dataverse untuk manajemen data riset, dan open publishing untuk kepentingan pedagogis. Kegiatan kursus ini juga diselingi dengan beberapa acara lain, seperti forum plenary sessions dan lightning talk. Dalam forum lightning talk, Ari yang juga merupakan anggota Tim Sains Terbuka (TST) Indonesia mempresentasikan perkembangan sains terbuka di Indonesia yang dimotori oleh TST.

Tentu banyak hasil pengamatan dan pelajaran yang dibawa pulang ke Indonesia. Namun, ada tiga poin penting yang diangkat oleh Ari sebagaimana yang ditulisnya di blog-nya.

Pertama, perkembangan komunikasi ilmiah secara internasional.

Meski tingkat kemajuannya bervariasi di banyak negara, ada banyak juga faktor kesamaan. Misalnya tentang perkembangan pra-cetak atau pre-print di negara-negara maju yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Meski pengelolaan data riset sudah cukup baik, ternyata belum semua peneliti dengan sadar mau melakukan arsip mandiri. Tantangan ini bisa ditemui di negara maju maupun negara berkembang.

Demikian juga dengan aspek prinsip-prinsip FAIR (findable, accessible, interoperable, and reusable) dalam manajemen data riset . Beberapa teman pustakawan bidang medis asal AS bercerita mengenai sulitnya mengakses data yang bisa digunakan kembali. Di lapangan, aspek FAIR belum sepenuhnya terimplementasikan dengan baik dan ideal.
Dari paparan beberapa kolega di Amerika Latin dan Afrika, geliat gerakan akses terbuka di kedua wilayah tersebut cukup baik. Melihat sejarahnya, Amerika Latin malah dapat disebut sebagai salah satu pelopor akses terbuka di dunia. Masalah yang mereka hadapi saat ini adalah tarik ulur antar penerbit, antara mau berkolaborasi atau berkompetisi dengan satu sama lain.

Sedangkan untuk Afrika, yang menarik adalah bahwa motor penggerak akses terbuka kini mulai berdatangan dari generasi yang lebih muda, para mahasiswa. Beberapa di antara mereka adalah alumni kegiatan OpenCon di luar Afrika. Saya cukup optimistis Indonesia juga bisa seperti Afrika mengingat mulai adanya bibit-bibit muda yang sadar tentang pentingnya pengetahuan terbuka.

Kedua, tentang pentingnya upaya kolaborasi. Semua bentuk inisiatif gerakan terbuka, mau itu sains terbuka, akses terbuka, dan lain sebagainya, memerlukan kolaborasi banyak pihak yang berkepentingan untuk bisa maju dan berkembang. Di tataran universitas, misalnya, akademisi, peneliti, pustakawan, dan mahasiswa perlu menjalin kerjasama dalam memajukan gerakan terbuka. Di forum ini saya melihat antusiasme yang besar baik dari kalangan akademisi maupun praktisi dalam mendukung gerakan terbuka.
Di tingkat nasional dalam konteks Indonesia, mungkin upaya kolaborasi sudah mulai berjalan. Namun, dalam praktik sehari-hari, kita bisa melihat bahwa terkadang yang berjalan hanya satu pihak, misalnya dosen saja atau pustakawan saja. Menggantungkan nasib gerakan akses terbuka hanya pada satu pihak jelas bukan langkah cerdas. Demikian juga dengan kaderisasi. Perlu lebih banyak orang muda yang harus terlibat dalam gerakan terbuka di Indonesia.

Terkait dengan gerakan akses terbuka di Indonesia, otokritik saya untuk komunitas pustakawan akademik, mengapa tidak mengambil peran lebih besar dan mulai memperkuat kemampuan advokasi. Secara umum, saya melihat kemampuan advokasi para pustakawan Indonesia masih cukup lemah, terutama dalam hal mengawal gerakan terbuka di kampusnya masing-masing. Akses terbuka di Indonesia sudah berusia cukup panjang, mungkin sudah satu dekade, tetapi apakah kita sudah melihat berapa jumlah repositori institusi yang menyediakan akses publik untuk hasil riset di perguruan tinggi?

Ketiga, jika institusi ingin maju, perkuat sumberdaya pustakawan. Catatan terakhir ini khusus untuk pustakawan perguruan tinggi dan manajemen universitas. Pembangunan universitas harus menyeluruh dan melibatkan banyak aktor-aktor, di antaranya adalah kalangan pustakawan. Alangkah baik jika kampus mendukung sepenuhnya upaya pustakawan untuk mengembangkan diri. Pustakawan yang berdaya dan memahami perannya tentu akan berkontribusi lebih besar bagi universitas. Sulit membayangkan sebuah universitas akan betul-betul maju di semua lini, jika pustakawannya belum sepenuhnya teberdayakan dengan baik.

Dari ketiga catatan ini, saya berharap banyak gerakan terbuka semakin memperoleh tempat di Indonesia. Semakin banyak pemain, semakin banyak orang muda yang terlibat, dan semakin banyak inisiatif yang muncul.

Reported by Ari Zuntriana

Workshop Metode Penelitian Bidang Kepustakawanan

Kegiatan workshop bidang kepustakawanan yang dilaksanakan UIN Walisongo pada Hari Rabu, 4 September 2019 di gedung Perpustakaan UIN Walisongo. Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutanya, beliau mengataka bahwa kebanggaan profesi itu harus selalu ditanamkan.
Workshop Metode Penelitian Bidang Kepustakawanan menghadirkan pembicara yang sekaligus merupakan pakar ilmu perpustakaan yaitu Bapak Agus Rifa’i, PhD. Beliau mengatakan bahwa Riset merupakan proses investigasi sistematis untuk mengembangkan atau merevisi pengetahuan yang ada dengan menemukan fakta baru.
Pada kegiatan tersebut Agus Rifa’i,PhD menjelaskan bahwa penelitian kepustakawanan dapat menggunakan teori yang “dikawinkan” dengan bidang lain, misalnya dengan bidang Pemasaran, ada teori 4P yang bisa diadopsi untuk kajian pemasaran perpustakaan. Teori-teori kebutuhan, teori life style dll dapat juga digunakan. “Sehingga pustakawan yang mempunyai latar belakang pendidikan bukan ilmu perpustakaan jangan berkecil hati, tetap bisa melakukan penelitian kepustakawanan,”jelas pak Agus.
Untuk memilih pendekatan apa yang akan diambil dalam melakukan riset/kajian dipengaruhi oleh sifat dan tujuan riset yang akan kita lakukan: (1) Riset kualitatif merupakan pendekatan penelitian untuk memahami secara mendalam terhadap suatu fenomena atau masalah penelitian, atau berfifat eksploratif (exploratory research).;(2)Riset kuantitatif berusaha menjelaskan suatu fenomena, dan atau hubungan antar fenomena berdasarkan karekteristik yang dimilikinya (explanatory research)
Dalam forum tersebut, peserta diajak untuk aktif dengan banyak bertanya menggali ide dan sekaligus konsultasi atas penelitian yang sedang dilakukan dan sedang direncanakan. Beberapa peserta yang bertanya diantaranya: Mas Itmam (pustakawan IAIN Salatiga), Mbak Junaeti (pustakawan IAIN Pekalongan), mbak Ifo (Pustakawan IAIN Salatiga), dll.
Forum semacam ini sangat diperlukan pustakawan, untuk mengasah kemampuan melakukan riset. Diharapkan akan ada kegiatan-kegiatan berikutnya yang digagas oleh Apptis dan anggota-anggotanya bagi kemajuan Pustakawan PTKIN khususnya dan Pustakawan Indonesia pada umumnya.

Reported by : Indah

Seminar Nasional dan Rakernas APPTIS

Kudus (APPTIS) — semboyan, yel-yel, prototipe, atau tagline dan berbagai istilah lainnya yang dianggap mampu memompa motivasi kerja dan pergerakan, dalam pendekatan psikologis menjadi perangkat yang perlu ada pada setiap organisasi. Semacam alat picu jantung yang memompa jantung dari lemahnya detak, tagline menjadi simbol gagah yang bisa digunakan memberi semangat, mengarahkan, dan memberi rel laju sebuah organisasi. Tidak terkecuali Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS), pada acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) Tanggal 30 – 31 Juli 2019 di Perpustakaan IAIN Kudus, Ketua Umum APPTIS Labibah Zain. Menyatakan dan menetapkan “Sharing, Inspiring, dan empowering” menjadi taglne APPTIS yang akan diejawantahkan pada setiap kegiatan.
Selain terdapat ketetapan tagline, raker juga memberikan input kebangsaan bahwa di samping evalusi ketercapaian program juga menghasilkan program-program yang perlu dipertimbangkan dalam Grand Design Perpustakaan PTKIN 2020-2024.
Pada rangkaian raker, dilaksanakan pula kegiatan Seminar Nasional, Call for Paper serta Cultural Visit. Pembicara pada seminar nasional adalah Dr.Ismail Fahmi dan Prof. Eko Indrajit. Reviewer Call For Paper digawangi oleh Faizudin Harliyansah, M.A dan Mufid, M.Hum. dan juga kegiatan Pelatihan Indonesia Onesearch yang di fasilitatori oleh Muhamad Hamim, S.Kom dan Miswan, S.Ag., SIP., M.Hum. Di sela kesempatan, ketua APPTIS menyempaikan pencapaian dua tahun terakhir bahwa APPTIS sudah berbadan hukum, Draft PMA terkait dengan kelembagaan Perpustakaan yang sudah diusulkan ke Kementrian Agama, Penyusunan Draft Grand Desain perpustakaan, Repository IOS cluster PTKI OSPL, serta Pemetaan Perpustakaan PTKI. Tak lupa Bapak Dirjen Prof Kamarudin Amin serta Dr Arsykal Salim yang kebijakan kebijakan mereka sangat mendukung pengembangan Perpustakaan.

reported by : Wiji

Workshop Peningkatan Kapasitas Soft Skill Pengelola Perpustakaan IAIN Kediri

Tantangan baru perpustakaan ke depan berupa pelayanan yang lebih kreatif, manusiawi, dan unggul sehingga dapat diterima dengan baik oleh penggunanya. Keseluruhan itu semua memerlukan sebuah kemampuan dari pengelola peprustakaan. Salah satunya apa yang dikenal dengan istilah softskill. Soft skill ini menekankan kepada kemampuan pengelola perpustakaan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna. Seseorang dengan kemampuan soft skill yang baik memeiliki karakter yang yang baik, komunikasi yang ramah dan pribadi yang tulus dalam melayani pengguna.

Untuk mencapai sioft skill yang mumpuni memerlukan sebuah pengetahuan dan pengalaman yang terarah. Salah satu upayanya dengan melakukan sebuah Workshop yang berupaya mengenalkan konsep soft skill dan bagiamana mengimplementasikannya dengan baik di perpustakaan. Kegiatan ini bertujuan memberikan bekal kepada pengelola perpustakaan dalam mengembangkan softskill layanan perpustakaan. Dengan kemampuan softskill diharapkan dapat meningkatkan peran dan fungsi perpustakaan secara lebih baik bagi penggunanya.

Sesi pertama kegiatan Workshop yang dilaksanakan pada hari selasa tanggal 23 Oktober 2018 ini diisi dengan peningkatan profesionalisme pustakawan dengan memberikan pengetahuan tentang tugas pokok dan fungsi pustakawan. Pustakawan harus menjadi pustakawan yang cerdas dalam menyiasati antara profesionalisme pekerjaan dengan reporting sebagai tuntutan administrasi pustakawan. Pustakawan harus mampu melayani pemustaka dengan baik sekaligus juga harus mampu menyelesaikan kegiatan-kegiatan administratif dalam rangka pengajuan Daftar Usulan Angka Kredit yang berimbas pada kenaikan jabatan seorang pustakawan. pada sesi ini, Bapak Muhammad Mansur selaku pemateri memberikan tips dan trik dalam rangka pemenuhan kebutuhan pengajuan DUPAK tanpa harus meninggalkan pekerjaan rutin yang dibebankan kepada seorang pustakawan. pada sesi kedua, Bapak Ilham Mashuri (pemateri) menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan soft skil penulisan yang nantinya menjadi bekal bagi pustakawan untuk menjalani profesinya sebagai pustakawan.

APPTIS “Peduli” Lombok

Gempa bumi tektonik yang mengguncang Lombok, Bali dan Sumbawa terjadi pada hari Minggu, 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 skala richter di kedalaman 25 km. Gempa tersebut kemudian diikuti dengan guncangan gempa bumi susulan bertubi-tubi. Hingga hari Senin pukul 10.00 WIB, telah terjadi 280 kali gempa susulan dengan magnitude (kekuatan gempa) yang lebih kecil. Tercatat korban yang meninggal dunia berjumlah 17 orang, 401 orang luka-luka, dan lebih dari 10.062 orang mengungsi di 13 titik pengungsian karena gempa tersebut. Sementara  bangunan rusak terdata berjumlah 5.448 unit.

Namun gempa bermagnitudo 6,4 skala richter pada hari Minggu 29 Juli 2018 ternyata adalah fore shock (gempa awalan). Saat masyarakat Lombok belum pulih dari traumanya, dan pemerintah daerah baru berbenah untuk meluncurkan program-program rehabilitasi dan rekonstruksinya, saat para donatur dan relawan masih berada di kamp-kamp pengungsi untuk memberikan bantuan, gempa yang lebih besar bermagnitudo 7.0 skala richter terjadi seminggu kemudian (Minggu, 5 Agustus 2018).

Gempa-gempa susulan yang terjadi setelah main shock menambah trauma para pengungsi dan penduduk Lombok. BMKG bahkan mencatat bahwa telah terjadi 576 gempa susulan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat hingga Minggu (12 Agustus 2018) sejak main shock 7.0 skala richter terjadi.

Jumlah korban gempa yang tercatat pada hari Senin, 13 Agustus 2018, meningkat drastis. Korban meninggal (sebagian besar akibat tertimpa bangunan roboh) sebanyak 436 orang, korban luka yang dirawat mencapai 1.353 orang, dan 352.793 orang mengungsi. Kerugian ditaksir mencapai Rp. 5,04 triliun.

Dwikorita Karnawati (Kepala BMKG Pusat) menerangkan bahwa gempa bumi yang terjadi di Lombok adalah gempa bumi dangkal yang diakibatkan oleh  aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust). Namun pemicu gempa tersebut adalah deformasi batuan (endapan) vulkanik  dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Walaupun masih akan ada gempa-gempa susulan selama beberapa minggu ke depan dengan kekuatan gempa yang fluktuatif, Dwikorita menyatakan bahwa energi terkuat telah selesai. Sehingga walaupun masyarakat Lombok masih harus tetap waspada, namun sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Bantuan untuk para pengungsi dan korban gempa berdatangan, baik secara individu, maupun dari organisasi, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Diantaranya adalah dari APPTIS. Sebagai Forum kerjasama antar Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam, APPTIS merasa terpanggil untuk membantu korban bencana gempa bumi di pulau seribu mesjid.

Komunitas perpustakaan perguruan tinggi di bawah naungan Kemenag ini juga aktif menggalang dana bantuan dari pihak lain. Sumbangan-sumbangan tersebut kemudian dibelikan berbagai perlengkapan kebutuhan pengungsi, seperti tikar, terpal, beras, minyak, susu dan popok bayi, alat mandi, obat-obatan, dan mie instan. Perlengkapan tersebut kemudian dibawa ke desa Penyambuan dan desa Gangga, dua desa yang ada di Kabupaten Lombok Utara yang terdampak gempa serius. Di daerah ini 90% bangunan roboh, dengan jumlah pengungsi sekitar 400an jiwa lebih.

Saat serah terima bantuan, Fahrurrizi, S.Sos. (pustakawan UIN Mataram), menyampaikan salam hangat dari teman-teman APPTIS, dan harapan agar sumbangan yang diberikan dapat meringankan beban para pengungsi di kedua desa yang terdampak.

Walaupun rangkaian gempa bumi Lombok belum bisa diketahui kapan akan berakhir, namun semangat saling membantu yang ditunjukkan oleh anggota APPTIS menunjukkan pesan tersirat. Pesan tersebut adalah bencana bisa datang dimana saja dan kapan saja, namun selama kita merasa satu iman, bersaudara, dan saling berempati, maka pertolongan bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja.

 

Salam hangat kami dari Lombok…

      

Reported by : Rika Kurniawaty (Pustakawan UIN Mataram)

Workshop Open Educational Resources di Perpustakaan IAIN Kudus

Workshop Open Educational Resources, diselenggarakan oleh UPT perpustakaan IAIN Kudus pada hari Senin tanggal 16 Juli 2018, bertempat di lantai 3 gedung rektorat IAIN Kudus. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Taufiq Abdul Gani, M.Eng.Sc dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Dr. H. Mundakir, M.Ag selaku rektor IAIN Kudus dan Dr. Nor Hadi, SE, M.Si,Akt,CA selaku wakil rektor 2 IAIN Kudus. Kegiatan workshop ini dihadiri oleh 91 Peserta yang terdiri dari para Kajur, Kaprodi, kepala unit ,dosen, dan pustakawan di lingkungan IAIN Kudus, serta kepala sekolah dari beberapa SMA/MA di Kabupaten Kudus, dan Kepala Perpustakaan Perguruan tinggi di Kabupaten Kudus dan sekitarnya

Rektor IAIN Kudus  Dr. H. Mundakir, M.Ag ketika memberikan materi menegaskan bahwa unsur pimpinan di IAIN Kudus memiliki komitmen yang tinggi untuk mendukung kebijakan pengembangan OPEN EDUCATIONAL RESOURCES sebagai sumber belajar terbuka dan digital di IAIN Kudus ditunjang dengan pembangunan  gedung perpustakaan 4 lantai yang insya Allah pembangunanya akan selesai pada bulan Desember 2018 dengan nilai 42,5 M. Sedangkan, Dr. Nor Hadi, SE, M.Si,Akt,CA menyampaikan hal-hal berkaitan dengan kebijakan penggunaan anggaran terutama untuk OER

Dalam Workhshop ini Narasumber Dr. Taufiq Abdul Gani, M.Eng.Sc. mengenalkan  tentang penggunaan software dan pengembangan  koleksi OER di  perpustakaan Unsyiah serta menyampaikan bahwa saat ini banyak bertambah personal atau lembaga pendidikan tinggi yang berbagi sumber daya belajar lewat internet secara terbuka tanpa biaya, dan dikenal sebagai Open Educational Resources (OER). Keuntungan menggunakan OER untuk Mahasiswa, OER menawarkan penghematan biaya dalam jumlah besar sebagai alternatif dari textbooks yang mahal. Sedangkan, bagi dosen bahan tersebut dapat diadaptasikan ke bahasa lokal dan menggunakanya secara inovatif. Menurut narasumber Dr. Taufiq Abdul Gani,penggunaan dan  pengembangan koleksi OER tersebut harus memperhatikan lisensi dan creative common.

Pada akhirnya melalui kegiatan workshop ini, diadakan kerjasama MOU antara UPT perpustakaan IAIN Kudus dan Perpustakaan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dalam hal pengembangan koleksi OER di masing-masing instansi.

pembukaan rakernas apptis di bandung 18-20 april 2018

Pembukaan Seminar Nasional, Workshop dan Rapat Kerja Nasional Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) 2018

Seminar Nasional, Workshop dan Rapat Kerja Nasional Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) berlangsung di Pusat Perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati pada tanggal 18-20 April 2018 dengan tema “Empowering Libraries for Research Quality”. acara dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si. dan sebelumnya disampaikan laporan ketua panitia rakernas Dr. Ija Suntana dan sambutan ketua APPTIS Drs Labibah, MLIS . setelah acara resmi dibuka rektor, dilanjutkan pengarahan Direktur Jenderal Pendidikan Islam yang diwakili oleh Kasi Penelitian dan Pengembangan Hak Kekayaan Intelektual Dr. Mahrus.

Seminar Nasional dan Workshop merupakan rangkaian dari Rapat Kerja nasional APPTIS. Menurut ketua panitia Ija Suntana seminar nasional dihadiri lebih dari 140 peserta yang berasal dari 52 PTKIN dan Perguruan Tinggi dari kementerian lain, serta anggota dari beberapa asosiasi perpustakaan perguruan tinggi lain. Juga dihadiri wakil rektor, dekan, ketua lembaga, dan kepala Biro UIN Sunan Gunung Djati. Selanjutnya ia menyatakan bahwa keberhasilan dalam menyelenggarakan Rakernas ini atas dukungan penuh Rektor kepada pengembangan Perpustakaan PTKIN.

Sementara ketua APPTIS, Labibah, dalam sambutannya, sangat mengapresiasi atas segala upaya perpustakaan dan dukungan rektor UIN Sunan Gunung Djati dalam menyediakan berbagai fasilitas yang sangat memadai sehingga acara rakernas, seminar nasional dan workshop bisa terselenggara di Perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati. Kemudian ia menjelaskan bahwa paradigma perpustakaan PT saat ini sudah berubah, perpustakaan tidak hanya sebagai pendukung tercapainya tri dharma PT tapi perpustakaan adalah bagian integral dari PT. diakhir sambutannya, ketua APPTIS, meminta kepada Rektor UIN Sunan Gunung Djati untuk membuka secara resmi rakernas.

Senada dengan Ketua APPTIS, Rektor dalam sambutannya, menyatakan bahwa posisi perpustakaan sangat penting bagi sebuah perguruan tinggi. Ia menyatakan bahwa perpustakaan perlu melakukan transformasi digital. Perpustakaan dikembangkan bukan sebagai pesaing bagi yang lain tetapi untuk bersanding bersama dalam memajukan perguruan tinggi Islam. Melalui kebersamaan dan saling bersinergi, kemajuan perguruan tinggi Islam akan terwujud, pungkas Rektor dalam sambutannya. Kemudian Rektor me-launching web resmi APPTIS dengan ditandai penayangan web APPTIS didepan para peserta rakernas.

Setelah pembukaan Rakernas secara resmi dibuka oleh Rektor, dilanjutkan pengarahan Kasi Penelitian dan Pengembangan Hak Kekayaan Intelektual. Mahrus menegaskan bahwa perpustakaan PTKIN harus mampu menjadi perpustakaan riset yang menyediakan sumber referensi bagi kebutuhan para peneliti, dan sebagai perpustakaan PTKIN harus memiliki distingsi sebagai alternative kekhasan PTKIN dalam destinasi studi Islam di dunia. Oleh karena itu setiap perpustakaan PTKIN perlu menyediakan koleksi berbahasa arab minimal 30% dari jumlah koleksi yang dimilikinya.

Di Akhir acara, ketua APPTIS menyerahkan rancangan PMA perpustakaan dan naskah akademik kepada Kasi Penelitian dan Pengembangan Hak Kekayaan Intelektual untuk disampaikan kepada Direktur Jenderal pendidikan Islam kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil H. Kamaruddin Amin, M.A. Usulan rancangan PMA tersebut menyangkut status, struktur organsasi dan SDM Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam di bawah Kementrian agama.

Sebelum acara pembukaan ini, diadakan workshop Online Research Skills dengan fasilitator Faizuddin Herliansyah, MIM (UIN Malang) dan workshop Academic Writin Skills dengan fasilitator Agus Rifai, PhD (UIN Jakarta).

Keesokan harinya diadakan Seminar Nasional dengan tema “Empowering Libraries for Research Quality” deng Narasumber Dr Mahrus, M.Ag (Kasi Penelitian dan HAKI Kementrian Agama RI dan Mantan Kepala STAIN Cirebon), Ghazali Muhammad Fadzil (Malaysia) dan Putu Laxman Pendit, PhD (Australia).

Acara Rapat Kerja APPTIS berlangsung setelah Seminar Nasional. Rapat kerja APPTIS tersebut mengamanatkan Pengurus APPTIS untuk membuat egiatan yang terkait Advokasi perputakaan dan profesi pustakawan PTKIN, Pemberdayaan Pustakawan melalui Berbagai pelatihan, Kerja sama di bidang pubikasi, pembuatan rancangan perpustakaan model bagi PTKIN serta pemetaan SDM pustakawan.

Rangkaian Kegiatan Workshop, Seminar dan Rapat kerja Nasional ini ditutup dengan kunjungan ke Perpustakaan Telkom University yang menerapkan konsep Open Library ini menginspirasi peserta