Pustakawan anggota APPTIS ikuti kursus musim panas FSCI 2019 di UCLA

Salah satu pustakawan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang juga merupakan anggota APPTIS, Ari Zuntriana, berkesempatan memperoleh beasiswa untuk mengikuti kursus musim panas bidang komunikasi ilmiah di kampus University of California Los Angeles (UCLA). Kursus ini merupakan hasil kerjasama antara FORCE11 dan kampus UCLA. FORCE11 merupakan lembaga non pemerintah yang bergerak dalam pengembangan komunikasi ilmiah. Organisasi ini berkedudukan di San Diego, California.

Dalam kegiatan ini, Ari mengikuti tiga kelas, yaitu penerapan prinsip FAIR dalam pengelolaan data riset, penerapan Dataverse untuk manajemen data riset, dan open publishing untuk kepentingan pedagogis. Kegiatan kursus ini juga diselingi dengan beberapa acara lain, seperti forum plenary sessions dan lightning talk. Dalam forum lightning talk, Ari yang juga merupakan anggota Tim Sains Terbuka (TST) Indonesia mempresentasikan perkembangan sains terbuka di Indonesia yang dimotori oleh TST.

Tentu banyak hasil pengamatan dan pelajaran yang dibawa pulang ke Indonesia. Namun, ada tiga poin penting yang diangkat oleh Ari sebagaimana yang ditulisnya di blog-nya.

Pertama, perkembangan komunikasi ilmiah secara internasional.

Meski tingkat kemajuannya bervariasi di banyak negara, ada banyak juga faktor kesamaan. Misalnya tentang perkembangan pra-cetak atau pre-print di negara-negara maju yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Meski pengelolaan data riset sudah cukup baik, ternyata belum semua peneliti dengan sadar mau melakukan arsip mandiri. Tantangan ini bisa ditemui di negara maju maupun negara berkembang.

Demikian juga dengan aspek prinsip-prinsip FAIR (findable, accessible, interoperable, and reusable) dalam manajemen data riset . Beberapa teman pustakawan bidang medis asal AS bercerita mengenai sulitnya mengakses data yang bisa digunakan kembali. Di lapangan, aspek FAIR belum sepenuhnya terimplementasikan dengan baik dan ideal.
Dari paparan beberapa kolega di Amerika Latin dan Afrika, geliat gerakan akses terbuka di kedua wilayah tersebut cukup baik. Melihat sejarahnya, Amerika Latin malah dapat disebut sebagai salah satu pelopor akses terbuka di dunia. Masalah yang mereka hadapi saat ini adalah tarik ulur antar penerbit, antara mau berkolaborasi atau berkompetisi dengan satu sama lain.

Sedangkan untuk Afrika, yang menarik adalah bahwa motor penggerak akses terbuka kini mulai berdatangan dari generasi yang lebih muda, para mahasiswa. Beberapa di antara mereka adalah alumni kegiatan OpenCon di luar Afrika. Saya cukup optimistis Indonesia juga bisa seperti Afrika mengingat mulai adanya bibit-bibit muda yang sadar tentang pentingnya pengetahuan terbuka.

Kedua, tentang pentingnya upaya kolaborasi. Semua bentuk inisiatif gerakan terbuka, mau itu sains terbuka, akses terbuka, dan lain sebagainya, memerlukan kolaborasi banyak pihak yang berkepentingan untuk bisa maju dan berkembang. Di tataran universitas, misalnya, akademisi, peneliti, pustakawan, dan mahasiswa perlu menjalin kerjasama dalam memajukan gerakan terbuka. Di forum ini saya melihat antusiasme yang besar baik dari kalangan akademisi maupun praktisi dalam mendukung gerakan terbuka.
Di tingkat nasional dalam konteks Indonesia, mungkin upaya kolaborasi sudah mulai berjalan. Namun, dalam praktik sehari-hari, kita bisa melihat bahwa terkadang yang berjalan hanya satu pihak, misalnya dosen saja atau pustakawan saja. Menggantungkan nasib gerakan akses terbuka hanya pada satu pihak jelas bukan langkah cerdas. Demikian juga dengan kaderisasi. Perlu lebih banyak orang muda yang harus terlibat dalam gerakan terbuka di Indonesia.

Terkait dengan gerakan akses terbuka di Indonesia, otokritik saya untuk komunitas pustakawan akademik, mengapa tidak mengambil peran lebih besar dan mulai memperkuat kemampuan advokasi. Secara umum, saya melihat kemampuan advokasi para pustakawan Indonesia masih cukup lemah, terutama dalam hal mengawal gerakan terbuka di kampusnya masing-masing. Akses terbuka di Indonesia sudah berusia cukup panjang, mungkin sudah satu dekade, tetapi apakah kita sudah melihat berapa jumlah repositori institusi yang menyediakan akses publik untuk hasil riset di perguruan tinggi?

Ketiga, jika institusi ingin maju, perkuat sumberdaya pustakawan. Catatan terakhir ini khusus untuk pustakawan perguruan tinggi dan manajemen universitas. Pembangunan universitas harus menyeluruh dan melibatkan banyak aktor-aktor, di antaranya adalah kalangan pustakawan. Alangkah baik jika kampus mendukung sepenuhnya upaya pustakawan untuk mengembangkan diri. Pustakawan yang berdaya dan memahami perannya tentu akan berkontribusi lebih besar bagi universitas. Sulit membayangkan sebuah universitas akan betul-betul maju di semua lini, jika pustakawannya belum sepenuhnya teberdayakan dengan baik.

Dari ketiga catatan ini, saya berharap banyak gerakan terbuka semakin memperoleh tempat di Indonesia. Semakin banyak pemain, semakin banyak orang muda yang terlibat, dan semakin banyak inisiatif yang muncul.

Reported by Ari Zuntriana

APPTIS dan Alumni DELSMA Dilibatkan dalam Penyusunan Grand Design Perpustakaan PTKI Diktis

Pada Tanggal 3-5 Juli 2019 (Rabu-Jumat) di Bali Mandira Hotel, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ditjen Pendidikan Islam bekerjasama dengan APPTIS dan Alumni Delsma (Angkatan 1-3) merumuskan dan menyusun Grand Design Perpustakaan PTKIN tahun 2020-2024 sebagai rencana strategis dalam rangka percepatan peningkatan mutu perpustakaan PTKI menuju world class university library.
Pada saat pembukaan, Prof. Dr. M. Arskal Salim (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam) menegaskan pentingnya peran perpustakaan dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di PTKI sehingga transformasi perpustakaan perlu dilakukan secara baik dan terencana. Kemudian Ketua APPTIS, Labibah, dalam sambutannya juga menegaskan bahwa posisi perpustakaan bukan hanya sebagai unit pendukung PT, tapi perpustakaan sebagai unit yang terintegrasi dengan PT. Lebih lanjut, beliau menjelaskan, bahwa grand design yang dibuat berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi dengan sentuhan Standar Perpustakaan Internasional dari ACRL. Sementara Mufid mewakili APPTIS untuk memaparkan peta Perpustakaan PTKIN sebagai gambaran kondisi perpustakaan PTKIN saat ini.
Sejumlah 6 komisi (koleksi, sarana prasaran, pelayanan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan, dan penguat perpustakaan) yang bekerja untuk menyelesaikan penyusunan grand design perpustakaan PTKI. Masing-masing komisi akan bertanggungjawab untuk memetakan kondisi perpustakaan saat ini dan kebutuhan perpustakaan lima tahun ke depan.
Sebelum komisi bekerja, ada materi pembekalan yang disampaikan oleh Narasumber Faizuddin Harliansyah tentang pentingnya pengembangan perpustakaan berbasis standar perpustakaan. Salah satu standar perpustakaan internasional yang bisa dirujuk adalah Standar ACRL. Pembekalan ini untuk memberikan wacana baru pengembangan perpustakaan di negara-negara maju yang kemudian diharapkan bisa menjadi inspirasi dalam penyusunan grand design perpustakaan.
Pada Kamis pagi hingga sore, semua komisi bekerja seharian untuk menyelesaikan tugasnya. Kemudian kamis malam, semua komisi mempresentasikan hasil dan mendengarkan masukan-masukan dari komisi lain. Hasil presentasi tersebut akan dimatangkan lagi pada pertemuan di IAIN Kudus tanggal 30-31 Juli 2019. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.
Di bawah ini Susunan Keanggotaan Gugus Tugas Penyusun Grand Design Perpustakaan Perguruan Tinggi Kementerian Agama Islam Tahun 2019

Ketua : Mufid., S.Ag., SS., M.Hum.
Sekretaris : Sri Astuti, S.IP., M.IP.

Komisi Koleksi
Ketua : Umar Falahul Alam, S.Ag., SS., M.Hum
Anggota :
Ummi Rodliyah, S.Ag., S.IPI., M.Hum
Isrowiyanti, S.Ag., SS. MIP
L. Nailah Hanum Hanany, S.Sos, M.AP
Nurmalina, S.Ag., SS., M.Hum.

Komisi Sarana dan Prasarana
Ketua : Amrullah Hasbana, S.Ag., SS., MA.
Anggota :
Jajang Burhanuddin, S.Ag., SS., M.Hum.
Zaenal, S.Hum., M.Hum.
Moch Isra Hajiri, S.IPI., M.Hum.
Suherman, S.Ag., S.IP., M.Ec.
Anisa Listiana, S.Ag, M.Ag

Komisi Pelayanan
Ketua : Rika Kurniawaty, M.Hum.
Anggota :
Wahyani, S.Ag., SS., M.IP.
Triana Santi, S.Ag., SS., MM.
Indah Wijaya Antasary, S. Sos
Nana Muslina, S.Ag, SIP, M.Ag, MLIS

Komisi Tenaga Perpustakaan
Ketua : Ulpah Handayani, S.Ag., SS., M.Hum.
Anggota :
Junaeti, S.Sos
Muhammad Hamim, S.Kom.
Miswan, S.Ag, SS, MA

Komisi Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan
Ketua : Wiji Suwarno, S.Ag, S.Ipi, M.Hum
Anggota :
Syihabumilla, M.Hum.
Syafrinal, S.Ag., SS., M.Kom.
Aris Nurrohman, S. Hi, M.Hum

Komisi Penguat
Ketua : Komarudin, S.Ag., SS., M.Hum.
Anggota :
Dr. H. Muhammad Tawwaf, S.IP., M.Si.
Ifonila Yeniati, S.Pd.I., S.IPI.
Rhoni Rodin, M.Hum

Kegiatan Training of Tainer (TOT) Pustakawan Perguruan Tinggi

Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama RI bekerjasama dengan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan kegiatan Training of Trainer (TOT) yang pertama. Kegiatan TOT ini diadakan di Hotel New Saphir, Jalan Laksda Adisucipto No. 38 Yogyakarta pada tanggal 21-26 November 2018. Kegiatan tersebut melibatkan 20 orang pustakawan 17 PTKIN di Indonesia.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Dra. Imas Maesaroh, M.Lib., Ph.D, dan Dr. Nur Kholis, M.Pd., dari UIN Sunan Ampel Surabaya serta Dr. Labibah Zein, MA. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk meningkatkan kemampuan menjadi fasilitator yang baik, berbagai simulasi dan praktek diadakan. Dengan menggunakan metode pembelajaran andragogy, peserta training dilatih menggunakan tehnik dan metode untuk menghadapi adult learner. Selain itu, para peserta training juga dituntut untuk membuat 13 modul pelatihan dari 7 tema besar, yaitu library management, collection development policy, library marketing, reference services, library technology, knowledge inflow by innovation in libraries and entrepreneurship, serta library development strategy in the users perspectif.
Pada sambutan di kegiatan penutupan, bapak Kasubdit Ketenagaan Drs. Syafi’I, M.Ag. menyatakan bahwa kegiatan Training of Trainer (TOT) adalah kegiatan yang sangat strategis untuk menciptakan fasilitator-fasilitator yang mempunyai skill dalam mengadakan berbagai pelatihan dan menjadi fasilitator. Dan hal ini sangat relevan dalam usaha peningkatan kapasitas profesionalisme SDM Kementerian Agama di bawah PTKIN, khususnya bagi pustakawan yang bergerak di bidang informasi dalam menghadapi perkembangan teknologi industry 4.0. Kegiatan-kegiatan yang serupa seperti ini hendaknya harus terus dikembangkan dan dilaksanakan di berbagai daerah untuk memperbanyak jumlah trainer di lingkungan PTKIN khususnya, dan Kementerian agama umumnya. Keberadaan trainer serta didukung dengan variasi kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk pustakawan akan meningkatkan profesionalisme pustakawan dalam menyikapi pesatnya perkembangan informasi dan teknologi yang terjadi pada usernya.

Reported by : RIKA KURNIAWATY, M.HUM.

APPTIS Peduli Palu

Bpk/Ibu yang Budiman, APPTIS turut berduka atas musibah Gempa dan Tsunami di Palu dan sekitarnya. Sebagai wujud kepedulian maka APPTIS kembali membuka kesempatan kepada bpk/Ibu untuk membantu meringankan korban gempa dengan memberikan donasi melalui kegiatan “APPTIS Peduli”. bagi yang hendak memberikan donasinya dapat dikirim melalui rekening an. Komarudin di BRI Cabang Kediri dengan Nomor 0033-01-037606-507. Demikian kami sampaikan semoga Alloh SWT memberikan kelapangan rezeki bagi kita semuanya.

Workshop Open Educational Resources di Perpustakaan IAIN Kudus

Workshop Open Educational Resources, diselenggarakan oleh UPT perpustakaan IAIN Kudus pada hari Senin tanggal 16 Juli 2018, bertempat di lantai 3 gedung rektorat IAIN Kudus. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Taufiq Abdul Gani, M.Eng.Sc dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Dr. H. Mundakir, M.Ag selaku rektor IAIN Kudus dan Dr. Nor Hadi, SE, M.Si,Akt,CA selaku wakil rektor 2 IAIN Kudus. Kegiatan workshop ini dihadiri oleh 91 Peserta yang terdiri dari para Kajur, Kaprodi, kepala unit ,dosen, dan pustakawan di lingkungan IAIN Kudus, serta kepala sekolah dari beberapa SMA/MA di Kabupaten Kudus, dan Kepala Perpustakaan Perguruan tinggi di Kabupaten Kudus dan sekitarnya

Rektor IAIN Kudus  Dr. H. Mundakir, M.Ag ketika memberikan materi menegaskan bahwa unsur pimpinan di IAIN Kudus memiliki komitmen yang tinggi untuk mendukung kebijakan pengembangan OPEN EDUCATIONAL RESOURCES sebagai sumber belajar terbuka dan digital di IAIN Kudus ditunjang dengan pembangunan  gedung perpustakaan 4 lantai yang insya Allah pembangunanya akan selesai pada bulan Desember 2018 dengan nilai 42,5 M. Sedangkan, Dr. Nor Hadi, SE, M.Si,Akt,CA menyampaikan hal-hal berkaitan dengan kebijakan penggunaan anggaran terutama untuk OER

Dalam Workhshop ini Narasumber Dr. Taufiq Abdul Gani, M.Eng.Sc. mengenalkan  tentang penggunaan software dan pengembangan  koleksi OER di  perpustakaan Unsyiah serta menyampaikan bahwa saat ini banyak bertambah personal atau lembaga pendidikan tinggi yang berbagi sumber daya belajar lewat internet secara terbuka tanpa biaya, dan dikenal sebagai Open Educational Resources (OER). Keuntungan menggunakan OER untuk Mahasiswa, OER menawarkan penghematan biaya dalam jumlah besar sebagai alternatif dari textbooks yang mahal. Sedangkan, bagi dosen bahan tersebut dapat diadaptasikan ke bahasa lokal dan menggunakanya secara inovatif. Menurut narasumber Dr. Taufiq Abdul Gani,penggunaan dan  pengembangan koleksi OER tersebut harus memperhatikan lisensi dan creative common.

Pada akhirnya melalui kegiatan workshop ini, diadakan kerjasama MOU antara UPT perpustakaan IAIN Kudus dan Perpustakaan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dalam hal pengembangan koleksi OER di masing-masing instansi.