Author - admin

APPTIS Sharing Series 2 : Membangun Pathfinder PTKIN

Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) Kamis, 21 Mei 2020 mengadakan Sharing Series 2 yang diikuti oleh Kepala Perpustakaan PTKIN dan pustakawan dari seluruh Indonesia. Sharing kali ini dimoderatori oleh Junaeti Aqin, pustakawan IAIN Pekalongan membahas tentang membangun Pathfinder PTKIN yang diinisiasi oleh anggota APPTIS alumni Delsma Jerman. Pertemuan kali ini sangat istimewa karena dihadiri langsung oleh Dirjen Pendis Kemenag RI Prof Dr Arsykal Salim, MA GBA. Dalam sambutannya beliau menekankan pentingnya dukungan TI bagi Perpustakaan di Era Pandemi dan mengapresiasi usaha-usaha yang dilakukan APPTIS serta mendorong APPTIS untuk mensosialisasikan kegiatan kegiatan Perpustakaan dan Pustakwan PTKI agar seluruh civitas akademika dan penentu kebijakan sadar peran vital perpustakaan.

Labibah Zain, Ketua APPTIS yang juga Kepala Peepustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini dalam sambutannya mengatakan bahwa APPTIS dalam menghadapi pandemi covid 19 ini telah melakukan kegiatan APPTIS Sharing Series secara terjadwal oleh Divisi SDM, pembuatan buku Best Practice oleh divisi Publikasi dan Riset serta Pembangunan Pathfinder PTKIN oleh Divisi Teknologi Informasi. Selanjutnya Labibah menekankan bahwa dalam era covid ini peran perpustakaan adalah krusial sebagai garda depan terhadap pemenuhan referensi baik pembelajaran maupun riset.

Selanjutnya konsep Pathfinder PTKIN pun dipresentasikan oleh Indah Wijaya Pustakawan IAIN Purwokerto dan Nailah Hanany pustakawan UIN Bandung dan Muhamad Hamim, Pustakawan IAIN Kediri. Pathfinder ini adalah subject guide yang bertujuan mengumpulkan eresources yang berserakan di Perpustakaan PTKIN sehingga akan memudahkan proses pencarian informasi.

Kalau OSPL yang dibuat Subdit Penelitian Kememtrian Agama dan APPTIS berbasis Onesearch yang dibangun oleh Bapak Ismail Fahmi dan Perpusnas lebih menekankan pada reposistory perpustakaan PTKIN dalam satu tempat, maka Konsep Pathfinder yang diajukan team APPTIS alumni Delsma ini lebih berbasis pada Subject yang menggunakan sistem yang sudah dibangun Arie Nugraha yang akan membantu proses penelusuran eresources per subyek.

Rika Kurniawati, juru bicara team Delsma mengatakan bahwa konsep ini masih berupa tawaran dan forum ini diadakan guna memberikan masukan terhadap konsep Pathfinder PTKIN tsb.

Selanjutnya team menerima masukan dari ibu Dr Imas Maesaroh Ketua Pusat Komputer UIN Surabaya, Ulfah Andayani, pustakawan UIN Jakarta dan Dr Suriani dari UIN Riau yang mencakup perlunya team verivikasi kualifikasi sumber informasi, pelibatan team TI, kluster dll.
Diskusi berlangsung hangat. Seluruh masukan baik dari yang berbicara langsung maupun dari chat room akan dikumpulkan sebagai bahan perbaikan konsep Pathfinder PTKIN ini. Acara kemudian ditutup dengan Foto bersama ala covid 19 era. (LZ)

Reporter
Labibah Zain

APPTIS Sharing Series Edisi 1

Dikala sebagaian besar negara boleh dikatakan penduduk dunia dihantui oleh rasa ketakutan dengan datangnya Covid-19 yang membabi-buta setiap manusia yang dijumpainya, membuat beberapa negara termasuk Indonesia memberlakukan berbagai kebijakan untuk mencegah perluasan penyebarannya Virus yang mematikan tersebut dengan cara diam di rumah saja.

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar, yang disingkat dan sering disebut (PSBB). Pemberlakuan mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Dampak dari kebijakan tersebut menghentikan mobilitas manusia, karena disuruh diam di rumah saja jangan kemana-mana, agar aktivitas tidak terhenti kemudian diberlakukan sistem Kerja, Sekolah/Kuliah, Ibadah dan lainnya dari rumah.

Dunia perpustakaan pun diserang, menyikapi covid-19 perpustakaan mengambil langkah, ada yang berlari terbirit-birit, ada yang lari kecil ada yang selambe saja, masak ya ? ya tidak lah, hal tersebut dikarenakan masing-masing perpustakaan sudah membangun sistem sejak lama, cuma belum dioptimalkan penggunaannya. Dengan adanya Covid-14 penerapan perpustakaan berbasis revolusi industri 4.0 bisa terealisasi.

Perpustakaan Perguruan Tinggi (PT) sebagaimana terdapat pada Pasal 4 ayat (3) Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Perpustakaan perguruan tinggi mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Semua perpustakaan perguruan tinggi sudah menjalankan fungsinya sebagaimana yang diamanat dalam undang-undang 43 tahun 2007 tersebut.

Dalam buku Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28F “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.

Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS)

” How Academic Libraries Deal With Covid-19“, yang digagas oleh Presiden APPTIS Ibu Labibah Zain, M.LIS beserta Divisi SDM APPTIS. Kegiatan Sharing Series melalui media Meet Google.

Kegiatan dibuka langsung oleh Ibu Labibah Zain, M.LIS. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Sharing Series ini baru pertama dilakukan yang bertujuan untuk sharing pengalaman lintas perpustakaan perguruan tinggi dalam menganani dampak dari covid-19 itu sendiri. Pada prinsipnya bagaimana sikap, respon dan peran kita selaku pengelola perpustakaan. Kita selaku pengelola harus mengedepankan aspek, kemudahan, keselamatan dengan memanfaatkan media-media yang tersedia. Selain itu Ibu yang akrab dipangil Buketum tersebut, pimpinan harus mampu melihat kekuatan SDM dalam melaksanakan kebijakan yang diambil karena untuk mencari SDM yang mampu dan mau itu tidak mudah, Ada SDM yang mampu bekerja namun dia tidak mau bekerja begitu sebaliknya.

Untuk pemateri ada Ibu Annisa Listiana dari Perpustakaan IAIN Kudus, Essy Marischa dan Pango Dato dari Perpustakaan Universitas Ciptutra, Ibu Zulfitri dari Perpustakaan IAIN Imam Bonjol dan Ibu Rasdanelis dari Perpustakaan UIN SUSKA Riau. Moderator Ibu Ulfa Andayani Perpustakaan UIN Jakarta.

Materi-materi yang dipaparkan luar biasa, menghadapi persoalan melahirkan kreatifitas dan inovasi baru dalam memyedia dan memberi informasi dan ilmu pengertahuan kepada pengguna.

Untuk peserta sendiri diikuti oleh Perpustakaan Perguruan Tinggi baik yang tergabung dalam juga diikuti dari luar APPTIS. Kegiatan dilanjut sesi tanya jawab dan di akhiri dengan doa, lebih kurang 2 (dua) jam berlangsung terasa sebentar karena banyak hal yang mau di bagi dan diserap. Kegiatan Sharing Series akan dilanjutkan kembali dengan tema dan narasumber yang berbeda.

Sisilain dari kegiatan sharing series adalah memperkuat perpustakaan perguruan tinggi melalui tali silaturahmi, Menimba dan membagi ilmu adalah cara kerja bagi seorang pengelola perpustakaan itu sendiri, dalam menguatkan diri ada yang menimba ada yang membagi.

Perpustakaan STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan sendiri dalam memberi juga mencari solsi dari layanan yang dilayani, salah satunya pengurusan SKBP. Pengurusan SKBP dapat diurus melalui online pada laman Website perpustakaan, SKBP nya sendiri dibuat otmatis oleh sistem jadi petugas tidak perlu membuatnya lagi, terkait sumbangan wajib sebagai syarat memperoleh SKBP sudah disiapkan e-library dimana yang bersangkutan bisa membeli buku elektronik untuk disumbangkan melalui e-library yang disediakan. Hal tersebut akan diberlakukan bila Covid-19 berkepanjangan, namun harapan kita tentu Covid-19 segera berakhir.

Penulis
Dr. Unyil

Menimba dan Membagi Ilmu Bersama APPTIS dalam Menghadapi Covid-19

Pustakawan anggota APPTIS ikuti kursus musim panas FSCI 2019 di UCLA

Salah satu pustakawan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang juga merupakan anggota APPTIS, Ari Zuntriana, berkesempatan memperoleh beasiswa untuk mengikuti kursus musim panas bidang komunikasi ilmiah di kampus University of California Los Angeles (UCLA). Kursus ini merupakan hasil kerjasama antara FORCE11 dan kampus UCLA. FORCE11 merupakan lembaga non pemerintah yang bergerak dalam pengembangan komunikasi ilmiah. Organisasi ini berkedudukan di San Diego, California.

Dalam kegiatan ini, Ari mengikuti tiga kelas, yaitu penerapan prinsip FAIR dalam pengelolaan data riset, penerapan Dataverse untuk manajemen data riset, dan open publishing untuk kepentingan pedagogis. Kegiatan kursus ini juga diselingi dengan beberapa acara lain, seperti forum plenary sessions dan lightning talk. Dalam forum lightning talk, Ari yang juga merupakan anggota Tim Sains Terbuka (TST) Indonesia mempresentasikan perkembangan sains terbuka di Indonesia yang dimotori oleh TST.

Tentu banyak hasil pengamatan dan pelajaran yang dibawa pulang ke Indonesia. Namun, ada tiga poin penting yang diangkat oleh Ari sebagaimana yang ditulisnya di blog-nya.

Pertama, perkembangan komunikasi ilmiah secara internasional.

Meski tingkat kemajuannya bervariasi di banyak negara, ada banyak juga faktor kesamaan. Misalnya tentang perkembangan pra-cetak atau pre-print di negara-negara maju yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Meski pengelolaan data riset sudah cukup baik, ternyata belum semua peneliti dengan sadar mau melakukan arsip mandiri. Tantangan ini bisa ditemui di negara maju maupun negara berkembang.

Demikian juga dengan aspek prinsip-prinsip FAIR (findable, accessible, interoperable, and reusable) dalam manajemen data riset . Beberapa teman pustakawan bidang medis asal AS bercerita mengenai sulitnya mengakses data yang bisa digunakan kembali. Di lapangan, aspek FAIR belum sepenuhnya terimplementasikan dengan baik dan ideal.
Dari paparan beberapa kolega di Amerika Latin dan Afrika, geliat gerakan akses terbuka di kedua wilayah tersebut cukup baik. Melihat sejarahnya, Amerika Latin malah dapat disebut sebagai salah satu pelopor akses terbuka di dunia. Masalah yang mereka hadapi saat ini adalah tarik ulur antar penerbit, antara mau berkolaborasi atau berkompetisi dengan satu sama lain.

Sedangkan untuk Afrika, yang menarik adalah bahwa motor penggerak akses terbuka kini mulai berdatangan dari generasi yang lebih muda, para mahasiswa. Beberapa di antara mereka adalah alumni kegiatan OpenCon di luar Afrika. Saya cukup optimistis Indonesia juga bisa seperti Afrika mengingat mulai adanya bibit-bibit muda yang sadar tentang pentingnya pengetahuan terbuka.

Kedua, tentang pentingnya upaya kolaborasi. Semua bentuk inisiatif gerakan terbuka, mau itu sains terbuka, akses terbuka, dan lain sebagainya, memerlukan kolaborasi banyak pihak yang berkepentingan untuk bisa maju dan berkembang. Di tataran universitas, misalnya, akademisi, peneliti, pustakawan, dan mahasiswa perlu menjalin kerjasama dalam memajukan gerakan terbuka. Di forum ini saya melihat antusiasme yang besar baik dari kalangan akademisi maupun praktisi dalam mendukung gerakan terbuka.
Di tingkat nasional dalam konteks Indonesia, mungkin upaya kolaborasi sudah mulai berjalan. Namun, dalam praktik sehari-hari, kita bisa melihat bahwa terkadang yang berjalan hanya satu pihak, misalnya dosen saja atau pustakawan saja. Menggantungkan nasib gerakan akses terbuka hanya pada satu pihak jelas bukan langkah cerdas. Demikian juga dengan kaderisasi. Perlu lebih banyak orang muda yang harus terlibat dalam gerakan terbuka di Indonesia.

Terkait dengan gerakan akses terbuka di Indonesia, otokritik saya untuk komunitas pustakawan akademik, mengapa tidak mengambil peran lebih besar dan mulai memperkuat kemampuan advokasi. Secara umum, saya melihat kemampuan advokasi para pustakawan Indonesia masih cukup lemah, terutama dalam hal mengawal gerakan terbuka di kampusnya masing-masing. Akses terbuka di Indonesia sudah berusia cukup panjang, mungkin sudah satu dekade, tetapi apakah kita sudah melihat berapa jumlah repositori institusi yang menyediakan akses publik untuk hasil riset di perguruan tinggi?

Ketiga, jika institusi ingin maju, perkuat sumberdaya pustakawan. Catatan terakhir ini khusus untuk pustakawan perguruan tinggi dan manajemen universitas. Pembangunan universitas harus menyeluruh dan melibatkan banyak aktor-aktor, di antaranya adalah kalangan pustakawan. Alangkah baik jika kampus mendukung sepenuhnya upaya pustakawan untuk mengembangkan diri. Pustakawan yang berdaya dan memahami perannya tentu akan berkontribusi lebih besar bagi universitas. Sulit membayangkan sebuah universitas akan betul-betul maju di semua lini, jika pustakawannya belum sepenuhnya teberdayakan dengan baik.

Dari ketiga catatan ini, saya berharap banyak gerakan terbuka semakin memperoleh tempat di Indonesia. Semakin banyak pemain, semakin banyak orang muda yang terlibat, dan semakin banyak inisiatif yang muncul.

Reported by Ari Zuntriana

Workshop Metode Penelitian Bidang Kepustakawanan

Kegiatan workshop bidang kepustakawanan yang dilaksanakan UIN Walisongo pada Hari Rabu, 4 September 2019 di gedung Perpustakaan UIN Walisongo. Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutanya, beliau mengataka bahwa kebanggaan profesi itu harus selalu ditanamkan.
Workshop Metode Penelitian Bidang Kepustakawanan menghadirkan pembicara yang sekaligus merupakan pakar ilmu perpustakaan yaitu Bapak Agus Rifa’i, PhD. Beliau mengatakan bahwa Riset merupakan proses investigasi sistematis untuk mengembangkan atau merevisi pengetahuan yang ada dengan menemukan fakta baru.
Pada kegiatan tersebut Agus Rifa’i,PhD menjelaskan bahwa penelitian kepustakawanan dapat menggunakan teori yang “dikawinkan” dengan bidang lain, misalnya dengan bidang Pemasaran, ada teori 4P yang bisa diadopsi untuk kajian pemasaran perpustakaan. Teori-teori kebutuhan, teori life style dll dapat juga digunakan. “Sehingga pustakawan yang mempunyai latar belakang pendidikan bukan ilmu perpustakaan jangan berkecil hati, tetap bisa melakukan penelitian kepustakawanan,”jelas pak Agus.
Untuk memilih pendekatan apa yang akan diambil dalam melakukan riset/kajian dipengaruhi oleh sifat dan tujuan riset yang akan kita lakukan: (1) Riset kualitatif merupakan pendekatan penelitian untuk memahami secara mendalam terhadap suatu fenomena atau masalah penelitian, atau berfifat eksploratif (exploratory research).;(2)Riset kuantitatif berusaha menjelaskan suatu fenomena, dan atau hubungan antar fenomena berdasarkan karekteristik yang dimilikinya (explanatory research)
Dalam forum tersebut, peserta diajak untuk aktif dengan banyak bertanya menggali ide dan sekaligus konsultasi atas penelitian yang sedang dilakukan dan sedang direncanakan. Beberapa peserta yang bertanya diantaranya: Mas Itmam (pustakawan IAIN Salatiga), Mbak Junaeti (pustakawan IAIN Pekalongan), mbak Ifo (Pustakawan IAIN Salatiga), dll.
Forum semacam ini sangat diperlukan pustakawan, untuk mengasah kemampuan melakukan riset. Diharapkan akan ada kegiatan-kegiatan berikutnya yang digagas oleh Apptis dan anggota-anggotanya bagi kemajuan Pustakawan PTKIN khususnya dan Pustakawan Indonesia pada umumnya.

Reported by : Indah

Seminar Nasional dan Rakernas APPTIS

Kudus (APPTIS) — semboyan, yel-yel, prototipe, atau tagline dan berbagai istilah lainnya yang dianggap mampu memompa motivasi kerja dan pergerakan, dalam pendekatan psikologis menjadi perangkat yang perlu ada pada setiap organisasi. Semacam alat picu jantung yang memompa jantung dari lemahnya detak, tagline menjadi simbol gagah yang bisa digunakan memberi semangat, mengarahkan, dan memberi rel laju sebuah organisasi. Tidak terkecuali Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS), pada acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) Tanggal 30 – 31 Juli 2019 di Perpustakaan IAIN Kudus, Ketua Umum APPTIS Labibah Zain. Menyatakan dan menetapkan “Sharing, Inspiring, dan empowering” menjadi taglne APPTIS yang akan diejawantahkan pada setiap kegiatan.
Selain terdapat ketetapan tagline, raker juga memberikan input kebangsaan bahwa di samping evalusi ketercapaian program juga menghasilkan program-program yang perlu dipertimbangkan dalam Grand Design Perpustakaan PTKIN 2020-2024.
Pada rangkaian raker, dilaksanakan pula kegiatan Seminar Nasional, Call for Paper serta Cultural Visit. Pembicara pada seminar nasional adalah Dr.Ismail Fahmi dan Prof. Eko Indrajit. Reviewer Call For Paper digawangi oleh Faizudin Harliyansah, M.A dan Mufid, M.Hum. dan juga kegiatan Pelatihan Indonesia Onesearch yang di fasilitatori oleh Muhamad Hamim, S.Kom dan Miswan, S.Ag., SIP., M.Hum. Di sela kesempatan, ketua APPTIS menyempaikan pencapaian dua tahun terakhir bahwa APPTIS sudah berbadan hukum, Draft PMA terkait dengan kelembagaan Perpustakaan yang sudah diusulkan ke Kementrian Agama, Penyusunan Draft Grand Desain perpustakaan, Repository IOS cluster PTKI OSPL, serta Pemetaan Perpustakaan PTKI. Tak lupa Bapak Dirjen Prof Kamarudin Amin serta Dr Arsykal Salim yang kebijakan kebijakan mereka sangat mendukung pengembangan Perpustakaan.

reported by : Wiji

APPTIS dan Alumni DELSMA Dilibatkan dalam Penyusunan Grand Design Perpustakaan PTKI Diktis

Pada Tanggal 3-5 Juli 2019 (Rabu-Jumat) di Bali Mandira Hotel, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ditjen Pendidikan Islam bekerjasama dengan APPTIS dan Alumni Delsma (Angkatan 1-3) merumuskan dan menyusun Grand Design Perpustakaan PTKIN tahun 2020-2024 sebagai rencana strategis dalam rangka percepatan peningkatan mutu perpustakaan PTKI menuju world class university library.
Pada saat pembukaan, Prof. Dr. M. Arskal Salim (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam) menegaskan pentingnya peran perpustakaan dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di PTKI sehingga transformasi perpustakaan perlu dilakukan secara baik dan terencana. Kemudian Ketua APPTIS, Labibah, dalam sambutannya juga menegaskan bahwa posisi perpustakaan bukan hanya sebagai unit pendukung PT, tapi perpustakaan sebagai unit yang terintegrasi dengan PT. Lebih lanjut, beliau menjelaskan, bahwa grand design yang dibuat berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi dengan sentuhan Standar Perpustakaan Internasional dari ACRL. Sementara Mufid mewakili APPTIS untuk memaparkan peta Perpustakaan PTKIN sebagai gambaran kondisi perpustakaan PTKIN saat ini.
Sejumlah 6 komisi (koleksi, sarana prasaran, pelayanan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan, dan penguat perpustakaan) yang bekerja untuk menyelesaikan penyusunan grand design perpustakaan PTKI. Masing-masing komisi akan bertanggungjawab untuk memetakan kondisi perpustakaan saat ini dan kebutuhan perpustakaan lima tahun ke depan.
Sebelum komisi bekerja, ada materi pembekalan yang disampaikan oleh Narasumber Faizuddin Harliansyah tentang pentingnya pengembangan perpustakaan berbasis standar perpustakaan. Salah satu standar perpustakaan internasional yang bisa dirujuk adalah Standar ACRL. Pembekalan ini untuk memberikan wacana baru pengembangan perpustakaan di negara-negara maju yang kemudian diharapkan bisa menjadi inspirasi dalam penyusunan grand design perpustakaan.
Pada Kamis pagi hingga sore, semua komisi bekerja seharian untuk menyelesaikan tugasnya. Kemudian kamis malam, semua komisi mempresentasikan hasil dan mendengarkan masukan-masukan dari komisi lain. Hasil presentasi tersebut akan dimatangkan lagi pada pertemuan di IAIN Kudus tanggal 30-31 Juli 2019. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.
Di bawah ini Susunan Keanggotaan Gugus Tugas Penyusun Grand Design Perpustakaan Perguruan Tinggi Kementerian Agama Islam Tahun 2019

Ketua : Mufid., S.Ag., SS., M.Hum.
Sekretaris : Sri Astuti, S.IP., M.IP.

Komisi Koleksi
Ketua : Umar Falahul Alam, S.Ag., SS., M.Hum
Anggota :
Ummi Rodliyah, S.Ag., S.IPI., M.Hum
Isrowiyanti, S.Ag., SS. MIP
L. Nailah Hanum Hanany, S.Sos, M.AP
Nurmalina, S.Ag., SS., M.Hum.

Komisi Sarana dan Prasarana
Ketua : Amrullah Hasbana, S.Ag., SS., MA.
Anggota :
Jajang Burhanuddin, S.Ag., SS., M.Hum.
Zaenal, S.Hum., M.Hum.
Moch Isra Hajiri, S.IPI., M.Hum.
Suherman, S.Ag., S.IP., M.Ec.
Anisa Listiana, S.Ag, M.Ag

Komisi Pelayanan
Ketua : Rika Kurniawaty, M.Hum.
Anggota :
Wahyani, S.Ag., SS., M.IP.
Triana Santi, S.Ag., SS., MM.
Indah Wijaya Antasary, S. Sos
Nana Muslina, S.Ag, SIP, M.Ag, MLIS

Komisi Tenaga Perpustakaan
Ketua : Ulpah Handayani, S.Ag., SS., M.Hum.
Anggota :
Junaeti, S.Sos
Muhammad Hamim, S.Kom.
Miswan, S.Ag, SS, MA

Komisi Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan
Ketua : Wiji Suwarno, S.Ag, S.Ipi, M.Hum
Anggota :
Syihabumilla, M.Hum.
Syafrinal, S.Ag., SS., M.Kom.
Aris Nurrohman, S. Hi, M.Hum

Komisi Penguat
Ketua : Komarudin, S.Ag., SS., M.Hum.
Anggota :
Dr. H. Muhammad Tawwaf, S.IP., M.Si.
Ifonila Yeniati, S.Pd.I., S.IPI.
Rhoni Rodin, M.Hum

Kegiatan Training of Tainer (TOT) Pustakawan Perguruan Tinggi

Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama RI bekerjasama dengan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan kegiatan Training of Trainer (TOT) yang pertama. Kegiatan TOT ini diadakan di Hotel New Saphir, Jalan Laksda Adisucipto No. 38 Yogyakarta pada tanggal 21-26 November 2018. Kegiatan tersebut melibatkan 20 orang pustakawan 17 PTKIN di Indonesia.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Dra. Imas Maesaroh, M.Lib., Ph.D, dan Dr. Nur Kholis, M.Pd., dari UIN Sunan Ampel Surabaya serta Dr. Labibah Zein, MA. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk meningkatkan kemampuan menjadi fasilitator yang baik, berbagai simulasi dan praktek diadakan. Dengan menggunakan metode pembelajaran andragogy, peserta training dilatih menggunakan tehnik dan metode untuk menghadapi adult learner. Selain itu, para peserta training juga dituntut untuk membuat 13 modul pelatihan dari 7 tema besar, yaitu library management, collection development policy, library marketing, reference services, library technology, knowledge inflow by innovation in libraries and entrepreneurship, serta library development strategy in the users perspectif.
Pada sambutan di kegiatan penutupan, bapak Kasubdit Ketenagaan Drs. Syafi’I, M.Ag. menyatakan bahwa kegiatan Training of Trainer (TOT) adalah kegiatan yang sangat strategis untuk menciptakan fasilitator-fasilitator yang mempunyai skill dalam mengadakan berbagai pelatihan dan menjadi fasilitator. Dan hal ini sangat relevan dalam usaha peningkatan kapasitas profesionalisme SDM Kementerian Agama di bawah PTKIN, khususnya bagi pustakawan yang bergerak di bidang informasi dalam menghadapi perkembangan teknologi industry 4.0. Kegiatan-kegiatan yang serupa seperti ini hendaknya harus terus dikembangkan dan dilaksanakan di berbagai daerah untuk memperbanyak jumlah trainer di lingkungan PTKIN khususnya, dan Kementerian agama umumnya. Keberadaan trainer serta didukung dengan variasi kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk pustakawan akan meningkatkan profesionalisme pustakawan dalam menyikapi pesatnya perkembangan informasi dan teknologi yang terjadi pada usernya.

Reported by : RIKA KURNIAWATY, M.HUM.

WORKSHOP OPEN EDUCATIONAL RESOURCES ( LIBRARY 4.0: OPEN EDUCATIONAL RESOURCES AND CUSTOMER ENGAGEMENT)

Perpustakaan dituntut untuk selalu mengelola menyajikan, dan mendistribusikan sumber-sumber informasi yang relevan dengan kebutuhan pemustakanya. Tuntutan kemudahan akses dan ketersediaan sumber-sumber informasi yang lengkap serta up to date juga semakin tinggi, terlebih lagi terhadap perpustakaan perguruan tinggi sebagai perpustakaan riset yang melayani sivitas akademika yang selalu memproduksi hasil karya ilmiah. Pada sisi lain, perpustakaan menghadapi persoalan klasik yang selalu melingkupi yaitu minimnya anggaran, bahkan adakalanya terjadi pengurangan anggaran.

Selain itu pada masa ini masalah plagiarisme juga menjadi tantangan perpustakaan dalam upaya mengembangkan material perpustakaan. Berbagai persoalan yang dihadapi, seyogyanya justru mendorong perpustakaan untuk kreatif dan tetap memberikan layanan terbaiknya. Dalam upaya peningkatan sumber-sumber informasi melalui strategi penelusuran dan penyajian sumber-sumber informasi yang up to date, free access, perpustakaan harus berhati-hati dengan memperhatikan legalitas dan tanpa terjebak pada tindak plagiarisme.

Demikian beberapa hal yang disampaikan oleh pembicara tunggal Dr. Taufiq A. Gani, S.Kom, M.Eng.Sc, dosen dan Kepala Perpustakaan UIN Syahkuala Banda Aceh pada hari Senin, 29 Oktober 2018 di ruang serbaguna lantai satu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Narasumber yang terkenal dengan panggilan TOPGAN ini memaparkan tentang Library 4.0: Open Educational Resources and Customer Engagement yang dikemas dalam “Workshop Open Eucational Resource”. Workshop yang berlangsung selama setengah hari ini dihadiri oleh 45 orang peserta dari empat belas instansi pendidikan negeri dan swasta di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta satu instansi dari Sorong.

Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Dra Labibah Zain, MLIS dalam sambutannya pada saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan workshop ini merupakan sebuah bentuk kreatifitas program perpustakaan dengan dana minimal. Meskipun demikian pihaknya berharap workshop OER ini sebagai upaya knowledge transfer yang dapat menjangkau banyak pihak yang berkompeten di bidang perpustakaan untuk belajar bersama dan menyerap banyak pengetahuan dari narasumber.(Ist)