Author - admin

APPTIS Menebar Kasih di Bumi Majene-Mamuju dan Banjarmasin

Serangkaian gempa bumi terjadi akibat aktivitas sesar Mamuju-Majene di Sulawesi Barat. Aktivitas tersebut mengakibatkan mekanisme pergerakan naik (thrust-fault) yang menimbulkan serangkaian gempa. Gempa pertama terjadi pada tanggal 14 Januari dengan kekuatan 5,9 skala Richter, yang diikuti dengan main shockberkekuatan 6,2 skala Richter.
Sampai tanggal 21 Januari, BMKG mencatat terdapat lebih dari 50 kali gempa yang terjadi dengan kekuatan yang bervariasi,sementara BNPB mencatat korban meninggal mencapai 91 orang meninggal, dan lebih dari 9 ribu jiwa mengungsi. Semua korban mengalami trauma serta krisis sandang, pangan, dan papan. Bencana alam lain terjadi di Kalimantan Selatan. Tingginya curah hujan selama 10 hari berturut-turut menyebabkan sungai Barito tidak dapat menampung luapan air sehingga menimbulkan banjir di 10 Kabupaten dan Kota. Tercatat 21 orang meninggal dunia, dan lebih dari 60 ribu jiwa mengungsi. Masing-masing bencana alam menimbulkan kerusakan fisik yang sangat parah.
Berbagai bantuan mengalir dari pemerintah maupun swasta, dari organisasi maupun per seorangan. APPTIS sebagai organisasi kepustakawanan di bawah Kementrian Agama juga tidak mau ketinggalan. APPTIS membuka dompet donasi dan menjadi fasilitatoruntuk membantu saudara-saudara sebangsa yang sedang hidup prihatin dan serba kekurangan di tempat pengungsian. Dana donasi yang terkumpul disalurkan di lokasi bencana oleh duta-duta APPTIS di masing-masing wilayah. Bapak Muhammad Danial S.Hum dari Perpustakaan STAIN Majene, dan ibu Laila Rahmawati, M.Hum dari UIN Banjarmasin, memimpin staf perpustakaannya dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, langsung menyalurkan bantuan ke lokasi-lokasi bencana.
Penyaluran donasi yang dilakukan oleh para duta APPTIS secara langsung ke korban-korban mendapatkan sambutan hangat dan apresiasi dari para korban bencana alam. Senyum bahagia yang terukir, dan rasa terima kasih yang disampaikan menyiratkan apresiasi terhadap semua bentuk bantuan. Semoga ketulusan dari para donatur dan kesigapan APPTISdapat meringankan beban hidup para korban.

Musyawarah Nasional Ke-4 APPTIS : Rekonsolidasi untuk Mencapai Tujuan Bersama

Pada Hari Senin, 21 Desember 2020, Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) bekerjasama dengan Perpustakaan UIN Antasari Banjarmasin mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) yang ke-4 via daring (online) yang diikuti oleh 102 orang peserta. Proses Musyawarah Nasional yang diadakan dari jam 9 pagi ini dilaksanakan sebagai media penyampaian Laporan Pertanggungjawaban kepengurusan APPTIS Periode 2017-2020, sekaligus memilih Ketua Umum yang baru. Konsolidasi Panitia dan Pengurus aktif dilakukan via WAG Pra Munas APPTIS yang dimatangkan saat persiapan dan gladi pada hari Minggu, 20 Desember 2020 jam 19.00 WIB juga melalui daring.
Yang spesial dari Munas ke 4 ini adalah diperdengarkan untuk pertama kalinya Mars APPTIS yang diciptakan oleh Zian, putra dari Kepala Perpustakaan IAIN Kudus, Ibu Anisa Listiana. Pada sambutan Munasnya, Dra. Labibah Zain, M.Lis. sebagai Ketua Umum APPTIS 2017-2020 menegaskan pentingnya peranan APPTIS di dalam menyuarakan keresahan, mengekspresikan kreativitas, dan saling menguatkan terutama pada saat pandemi, saling menginspirasi, saling melihat kebijakan satu sama lain, untuk tetap melayani civitas akademika dengan baik. APPTIS juga melakukan berbagai advokasi, khususnya pada permasalahan-permasalahan keperpustakaan dan kepustakawanan demi menunjang esensi keberadaan perpustakaan sebagai solusi riset di PTKIN. Usaha-usaha APPTIS antara lain adalah pengajuan draft PMA yang telah ditindaklanjuti oleh Direktorat, pengajuan grand design Perpustakaan PTKIN, mengadvokasi akses turnitin ke seluruh PTKIN dari anggaran Kementrian Agama, membangun repository dan pathfinder khusus PTKIN.

Sambutan dan pembukaan Musyawarah kemudian disampaikan oleh Prof Dr. Mujiburrahman, MA. Rektor UIN Antasari Banjarmasin. Pak Rektor menyampaikan apresiasi terhadap kiprah dan prestasi APPTIS. Dan berharap agar APPTIS dapat memaksimalkan peranannya dalam optimalisasi sumber-sumber informasi dan layanan-layanan digital di dalam situasi pandemi karena keterbatasan layanan tatap muka akademisi. Optimalisasi sumber-sumber informasi (rekaman perkuliahan) yang dilakukan via zoom, Google meet, maupun Learning Management System (LMS) di berbagai PTKIN agar dapat digunakan kembali oleh para mahasiswa lintas PTKIN yang membutuhkan informasi serupa. APPTIS juga bisa mengoptimalisasikan sumber-sumber informasi berupa podcast yang sedang trend misalnya berbagai rekaman talkshow, penerbitan buku baru dan lain sebagainya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan launching buku APPTIS yang berjudul “Kreatif atau mati” oleh Ketua Bidang Pengembangan SDM, ibu Ulfah Handayani. Dalam pengantarnya, bu Ulfah memaparkan realitas bahwa masa pandemi Covid-19 yang telah menjadi ajang pembuktian eksistensi perpustakaan dan pustakawan melalui kreativitas dan inovasi di dalam keterbatasan. Buku “Kreatif atau Mati” adalah karya yang merekam bentuk kreativitas dan inovasi perpustakaan dan pustakawan PTKIN dalam memberikan layanan kepada sivitas akademika. Buku ini berisi 19 artikel dan dieditori oleh Labibah Zein, Wiji Suwarno, serta Ulfah Andayani. Di akhir penjelasan, bu Ulfah menyampaikan harapan agar buku ini dapat memberikan manfaat dan menjadi inspirasi bagi pustakawan untuk menghasilkan karya-karya yang lebih produktif untuk kemajuan PTKIN di masa mendatang.
Sambutan yang tak kalah pentingnya juga disampaikan oleh Bapak Sekretaris Jenderal Kementrian Agama, Prof. Dr. Nizar Ali, MA. Pak Sekjend mengapresiasi dan memberikan penghargaan kepada seluruh pustakawan dan perpustakaan untuk tetap berkiprah secara aktif di masa pandemi dan menjadi bagian integral di dalam urusan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat di berbagai kampus PTKIN di lingkungan Kementerian Agama. Tentu hal ini tidak lepas dari peran APPTIS yang selalu melakukan koordinasi sedemikian rupa sehingga saling menguatkan, saling belajar, saling memberikan inspirasi kepada yang lainnya. Ada tiga hal yang ditekankan oleh pak Sekjend, yaitu pentingnya perpustakaan dalam memiliki (1) SDM yang qualified dengan pendidikan, (2) peningkatan kompetensi melalui pelatihan, seminar, workshop, bahkan shortcourse ke luar negeri. SDM perpustakaan yang kompeten, unggul, dan kreatif yang bisa selalu mencari solusi dalam semua persoalan, cepat merespon perkembangan zaman inline dengan arahan Presiden RI, yaitu SDM unggul. Peningkatan SDM juga ditujukan untuk mendukung tujuan Pendis ke depan dalam memiliki daya saing nasional di tahun 2024, daya saing regional minimal ASEAN di tahun 2029, dan daya saing Internasional di tahun 2034. Terakhir, pak Sekjend menekankan pemanfaatan berbagai electronic resources yang bisa digunakan oleh semua civitas akademika sehingga dapat men-support kualitas berbagai karya intelektual. Terkait dengan asosiasi, pak Sekjend berharap agar APPTIS bisa terus mensinergikan berbagai kekuatan-kekuatan yang ada untuk memperkuat hal-hal yang ditekankan di atas. Pak Sekjend menghargai berbagai terobosan, inovasi, dan kreativitas yang sudah dilakukan APPTIS dan memotivasi kegiatan-kegiatan yang perlu ditindaklanjuti. Pak Sekjend menutup sambutan dengan menyampaikan harapannya bahwa keberadaan perpustakaan-perpustakaan PTKIN dapat menjadi solusi dari semua permasalahan civitas akademika dalam mencari referensi riset, serta melakukan berbagai bimbingan di dalam penerbitan dan diseminasi hasil penelitian.
Setelah sambutan bapak Sekjend, APPTIS mulai melakukan proses Munas yang dipimpin oleh Bapak Komarudin, M.Hum. Kepala Perpustakaan IAIN Kediri yang bertindak sebagai Ketua Sidang. Sebelum memulai proses Munas, ketua sidang lebih dulu memeriksa keterpenuhan kuorum. Selanjutnya Ketua Sidang mengawali sidang dengan membacakan rancangan Tata tertib Munas ke 4 APPTIS untuk ditetapkan menjadi Tata Tertib Munas ke 4. Setelah penetapan Tata Tertib, Ketua Sidang mempersilahkan Ketua Umum untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban dalam kepengurusan APPTIS Periode 2017-2020. Satu persatu kegiatan dari program kerja yang berhasil dilakukan dan kendala-kendala saat program tidak bisa dilakukan dengan baik, dibahas dan dijelaskan oleh Ketua Umum APPTIS Dra. Labibah Zain, M.Lis. Laporan pertanggungjawaban dikhiri dengan penyampaian kondisi anggaran APPTIS oleh Bendahara Umum APPTIS, ibu Sri Astuti, M.IP. Saat Laporan pertanggungjawaban diterima oleh forum, Ketua dan seluruh jajaran kepengurusan APPTIS periode 2017-2020 kemudian dinyatakan demisioner.
Selanjutnya, Ketua sidang memimpin proses pemilihan Ketua baru. Proses pemilihan didahului dengan mengeluarkan peserta Munas yang bukan Kepala ke Waiting room, sehingga menyisakan 37 orang Kepala Perpustakaan yang memiliki hak suara di room. Dari 6 orang Calon Ketua APPTIS yang terjaring dari penyebaran google form pemilihan Bakal Calon Ketua APPTIS yang dilakukan 19-20 Desember, ternyata 50% suara tetap menginginkan Bu Labibah sebagai Ketua Umum APPTIS untuk periode selanjutnya. Sidang juga membentuk Tim Formatur, yang terdiri dari 8 orang perwakilan dari berbagai unsur.
Kegiatan Munas ditutup dengan sambutan ketua terpilih, ibu Dra. Labibah Zain, M.Lis. yang mengharapkan peran serta dan kerjasama teman-tema lainnya untuk membantu APPTIS agar dapat lebih keras bersuara sehingga lebih bisa didengar dan diperhitungkan. Kelemahan teknis dari bu Ketua diharapkan dapat ditutupi oleh para pengurus APPTIS selanjutnya. Tim formatur diharapkan dapat bekerja keras dan berkomitmen di sela-sela kesibukannya mengurusi internal perpustakaan masing-masing. Sehingga APPTIS dan Perpustakaan dapat menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pengembangan PTKIN ke depan.

Reported by Rika

APPTIS Sharing Series 2 : Membangun Pathfinder PTKIN

Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) Kamis, 21 Mei 2020 mengadakan Sharing Series 2 yang diikuti oleh Kepala Perpustakaan PTKIN dan pustakawan dari seluruh Indonesia. Sharing kali ini dimoderatori oleh Junaeti Aqin, pustakawan IAIN Pekalongan membahas tentang membangun Pathfinder PTKIN yang diinisiasi oleh anggota APPTIS alumni Delsma Jerman. Pertemuan kali ini sangat istimewa karena dihadiri langsung oleh Dirjen Pendis Kemenag RI Prof Dr Arsykal Salim, MA GBA. Dalam sambutannya beliau menekankan pentingnya dukungan TI bagi Perpustakaan di Era Pandemi dan mengapresiasi usaha-usaha yang dilakukan APPTIS serta mendorong APPTIS untuk mensosialisasikan kegiatan kegiatan Perpustakaan dan Pustakwan PTKI agar seluruh civitas akademika dan penentu kebijakan sadar peran vital perpustakaan.

Labibah Zain, Ketua APPTIS yang juga Kepala Peepustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini dalam sambutannya mengatakan bahwa APPTIS dalam menghadapi pandemi covid 19 ini telah melakukan kegiatan APPTIS Sharing Series secara terjadwal oleh Divisi SDM, pembuatan buku Best Practice oleh divisi Publikasi dan Riset serta Pembangunan Pathfinder PTKIN oleh Divisi Teknologi Informasi. Selanjutnya Labibah menekankan bahwa dalam era covid ini peran perpustakaan adalah krusial sebagai garda depan terhadap pemenuhan referensi baik pembelajaran maupun riset.

Selanjutnya konsep Pathfinder PTKIN pun dipresentasikan oleh Indah Wijaya Pustakawan IAIN Purwokerto dan Nailah Hanany pustakawan UIN Bandung dan Muhamad Hamim, Pustakawan IAIN Kediri. Pathfinder ini adalah subject guide yang bertujuan mengumpulkan eresources yang berserakan di Perpustakaan PTKIN sehingga akan memudahkan proses pencarian informasi.

Kalau OSPL yang dibuat Subdit Penelitian Kememtrian Agama dan APPTIS berbasis Onesearch yang dibangun oleh Bapak Ismail Fahmi dan Perpusnas lebih menekankan pada reposistory perpustakaan PTKIN dalam satu tempat, maka Konsep Pathfinder yang diajukan team APPTIS alumni Delsma ini lebih berbasis pada Subject yang menggunakan sistem yang sudah dibangun Arie Nugraha yang akan membantu proses penelusuran eresources per subyek.

Rika Kurniawati, juru bicara team Delsma mengatakan bahwa konsep ini masih berupa tawaran dan forum ini diadakan guna memberikan masukan terhadap konsep Pathfinder PTKIN tsb.

Selanjutnya team menerima masukan dari ibu Dr Imas Maesaroh Ketua Pusat Komputer UIN Surabaya, Ulfah Andayani, pustakawan UIN Jakarta dan Dr Suriani dari UIN Riau yang mencakup perlunya team verivikasi kualifikasi sumber informasi, pelibatan team TI, kluster dll.
Diskusi berlangsung hangat. Seluruh masukan baik dari yang berbicara langsung maupun dari chat room akan dikumpulkan sebagai bahan perbaikan konsep Pathfinder PTKIN ini. Acara kemudian ditutup dengan Foto bersama ala covid 19 era. (LZ)

Reporter
Labibah Zain

APPTIS Sharing Series Edisi 1

Dikala sebagaian besar negara boleh dikatakan penduduk dunia dihantui oleh rasa ketakutan dengan datangnya Covid-19 yang membabi-buta setiap manusia yang dijumpainya, membuat beberapa negara termasuk Indonesia memberlakukan berbagai kebijakan untuk mencegah perluasan penyebarannya Virus yang mematikan tersebut dengan cara diam di rumah saja.

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar, yang disingkat dan sering disebut (PSBB). Pemberlakuan mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Dampak dari kebijakan tersebut menghentikan mobilitas manusia, karena disuruh diam di rumah saja jangan kemana-mana, agar aktivitas tidak terhenti kemudian diberlakukan sistem Kerja, Sekolah/Kuliah, Ibadah dan lainnya dari rumah.

Dunia perpustakaan pun diserang, menyikapi covid-19 perpustakaan mengambil langkah, ada yang berlari terbirit-birit, ada yang lari kecil ada yang selambe saja, masak ya ? ya tidak lah, hal tersebut dikarenakan masing-masing perpustakaan sudah membangun sistem sejak lama, cuma belum dioptimalkan penggunaannya. Dengan adanya Covid-14 penerapan perpustakaan berbasis revolusi industri 4.0 bisa terealisasi.

Perpustakaan Perguruan Tinggi (PT) sebagaimana terdapat pada Pasal 4 ayat (3) Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Perpustakaan perguruan tinggi mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Semua perpustakaan perguruan tinggi sudah menjalankan fungsinya sebagaimana yang diamanat dalam undang-undang 43 tahun 2007 tersebut.

Dalam buku Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28F “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.

Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS)

” How Academic Libraries Deal With Covid-19“, yang digagas oleh Presiden APPTIS Ibu Labibah Zain, M.LIS beserta Divisi SDM APPTIS. Kegiatan Sharing Series melalui media Meet Google.

Kegiatan dibuka langsung oleh Ibu Labibah Zain, M.LIS. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Sharing Series ini baru pertama dilakukan yang bertujuan untuk sharing pengalaman lintas perpustakaan perguruan tinggi dalam menganani dampak dari covid-19 itu sendiri. Pada prinsipnya bagaimana sikap, respon dan peran kita selaku pengelola perpustakaan. Kita selaku pengelola harus mengedepankan aspek, kemudahan, keselamatan dengan memanfaatkan media-media yang tersedia. Selain itu Ibu yang akrab dipangil Buketum tersebut, pimpinan harus mampu melihat kekuatan SDM dalam melaksanakan kebijakan yang diambil karena untuk mencari SDM yang mampu dan mau itu tidak mudah, Ada SDM yang mampu bekerja namun dia tidak mau bekerja begitu sebaliknya.

Untuk pemateri ada Ibu Annisa Listiana dari Perpustakaan IAIN Kudus, Essy Marischa dan Pango Dato dari Perpustakaan Universitas Ciptutra, Ibu Zulfitri dari Perpustakaan IAIN Imam Bonjol dan Ibu Rasdanelis dari Perpustakaan UIN SUSKA Riau. Moderator Ibu Ulfa Andayani Perpustakaan UIN Jakarta.

Materi-materi yang dipaparkan luar biasa, menghadapi persoalan melahirkan kreatifitas dan inovasi baru dalam memyedia dan memberi informasi dan ilmu pengertahuan kepada pengguna.

Untuk peserta sendiri diikuti oleh Perpustakaan Perguruan Tinggi baik yang tergabung dalam juga diikuti dari luar APPTIS. Kegiatan dilanjut sesi tanya jawab dan di akhiri dengan doa, lebih kurang 2 (dua) jam berlangsung terasa sebentar karena banyak hal yang mau di bagi dan diserap. Kegiatan Sharing Series akan dilanjutkan kembali dengan tema dan narasumber yang berbeda.

Sisilain dari kegiatan sharing series adalah memperkuat perpustakaan perguruan tinggi melalui tali silaturahmi, Menimba dan membagi ilmu adalah cara kerja bagi seorang pengelola perpustakaan itu sendiri, dalam menguatkan diri ada yang menimba ada yang membagi.

Perpustakaan STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan sendiri dalam memberi juga mencari solsi dari layanan yang dilayani, salah satunya pengurusan SKBP. Pengurusan SKBP dapat diurus melalui online pada laman Website perpustakaan, SKBP nya sendiri dibuat otmatis oleh sistem jadi petugas tidak perlu membuatnya lagi, terkait sumbangan wajib sebagai syarat memperoleh SKBP sudah disiapkan e-library dimana yang bersangkutan bisa membeli buku elektronik untuk disumbangkan melalui e-library yang disediakan. Hal tersebut akan diberlakukan bila Covid-19 berkepanjangan, namun harapan kita tentu Covid-19 segera berakhir.

Penulis
Dr. Unyil

Menimba dan Membagi Ilmu Bersama APPTIS dalam Menghadapi Covid-19

Pustakawan anggota APPTIS ikuti kursus musim panas FSCI 2019 di UCLA

Salah satu pustakawan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang juga merupakan anggota APPTIS, Ari Zuntriana, berkesempatan memperoleh beasiswa untuk mengikuti kursus musim panas bidang komunikasi ilmiah di kampus University of California Los Angeles (UCLA). Kursus ini merupakan hasil kerjasama antara FORCE11 dan kampus UCLA. FORCE11 merupakan lembaga non pemerintah yang bergerak dalam pengembangan komunikasi ilmiah. Organisasi ini berkedudukan di San Diego, California.

Dalam kegiatan ini, Ari mengikuti tiga kelas, yaitu penerapan prinsip FAIR dalam pengelolaan data riset, penerapan Dataverse untuk manajemen data riset, dan open publishing untuk kepentingan pedagogis. Kegiatan kursus ini juga diselingi dengan beberapa acara lain, seperti forum plenary sessions dan lightning talk. Dalam forum lightning talk, Ari yang juga merupakan anggota Tim Sains Terbuka (TST) Indonesia mempresentasikan perkembangan sains terbuka di Indonesia yang dimotori oleh TST.

Tentu banyak hasil pengamatan dan pelajaran yang dibawa pulang ke Indonesia. Namun, ada tiga poin penting yang diangkat oleh Ari sebagaimana yang ditulisnya di blog-nya.

Pertama, perkembangan komunikasi ilmiah secara internasional.

Meski tingkat kemajuannya bervariasi di banyak negara, ada banyak juga faktor kesamaan. Misalnya tentang perkembangan pra-cetak atau pre-print di negara-negara maju yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Meski pengelolaan data riset sudah cukup baik, ternyata belum semua peneliti dengan sadar mau melakukan arsip mandiri. Tantangan ini bisa ditemui di negara maju maupun negara berkembang.

Demikian juga dengan aspek prinsip-prinsip FAIR (findable, accessible, interoperable, and reusable) dalam manajemen data riset . Beberapa teman pustakawan bidang medis asal AS bercerita mengenai sulitnya mengakses data yang bisa digunakan kembali. Di lapangan, aspek FAIR belum sepenuhnya terimplementasikan dengan baik dan ideal.
Dari paparan beberapa kolega di Amerika Latin dan Afrika, geliat gerakan akses terbuka di kedua wilayah tersebut cukup baik. Melihat sejarahnya, Amerika Latin malah dapat disebut sebagai salah satu pelopor akses terbuka di dunia. Masalah yang mereka hadapi saat ini adalah tarik ulur antar penerbit, antara mau berkolaborasi atau berkompetisi dengan satu sama lain.

Sedangkan untuk Afrika, yang menarik adalah bahwa motor penggerak akses terbuka kini mulai berdatangan dari generasi yang lebih muda, para mahasiswa. Beberapa di antara mereka adalah alumni kegiatan OpenCon di luar Afrika. Saya cukup optimistis Indonesia juga bisa seperti Afrika mengingat mulai adanya bibit-bibit muda yang sadar tentang pentingnya pengetahuan terbuka.

Kedua, tentang pentingnya upaya kolaborasi. Semua bentuk inisiatif gerakan terbuka, mau itu sains terbuka, akses terbuka, dan lain sebagainya, memerlukan kolaborasi banyak pihak yang berkepentingan untuk bisa maju dan berkembang. Di tataran universitas, misalnya, akademisi, peneliti, pustakawan, dan mahasiswa perlu menjalin kerjasama dalam memajukan gerakan terbuka. Di forum ini saya melihat antusiasme yang besar baik dari kalangan akademisi maupun praktisi dalam mendukung gerakan terbuka.
Di tingkat nasional dalam konteks Indonesia, mungkin upaya kolaborasi sudah mulai berjalan. Namun, dalam praktik sehari-hari, kita bisa melihat bahwa terkadang yang berjalan hanya satu pihak, misalnya dosen saja atau pustakawan saja. Menggantungkan nasib gerakan akses terbuka hanya pada satu pihak jelas bukan langkah cerdas. Demikian juga dengan kaderisasi. Perlu lebih banyak orang muda yang harus terlibat dalam gerakan terbuka di Indonesia.

Terkait dengan gerakan akses terbuka di Indonesia, otokritik saya untuk komunitas pustakawan akademik, mengapa tidak mengambil peran lebih besar dan mulai memperkuat kemampuan advokasi. Secara umum, saya melihat kemampuan advokasi para pustakawan Indonesia masih cukup lemah, terutama dalam hal mengawal gerakan terbuka di kampusnya masing-masing. Akses terbuka di Indonesia sudah berusia cukup panjang, mungkin sudah satu dekade, tetapi apakah kita sudah melihat berapa jumlah repositori institusi yang menyediakan akses publik untuk hasil riset di perguruan tinggi?

Ketiga, jika institusi ingin maju, perkuat sumberdaya pustakawan. Catatan terakhir ini khusus untuk pustakawan perguruan tinggi dan manajemen universitas. Pembangunan universitas harus menyeluruh dan melibatkan banyak aktor-aktor, di antaranya adalah kalangan pustakawan. Alangkah baik jika kampus mendukung sepenuhnya upaya pustakawan untuk mengembangkan diri. Pustakawan yang berdaya dan memahami perannya tentu akan berkontribusi lebih besar bagi universitas. Sulit membayangkan sebuah universitas akan betul-betul maju di semua lini, jika pustakawannya belum sepenuhnya teberdayakan dengan baik.

Dari ketiga catatan ini, saya berharap banyak gerakan terbuka semakin memperoleh tempat di Indonesia. Semakin banyak pemain, semakin banyak orang muda yang terlibat, dan semakin banyak inisiatif yang muncul.

Reported by Ari Zuntriana

Workshop Metode Penelitian Bidang Kepustakawanan

Kegiatan workshop bidang kepustakawanan yang dilaksanakan UIN Walisongo pada Hari Rabu, 4 September 2019 di gedung Perpustakaan UIN Walisongo. Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutanya, beliau mengataka bahwa kebanggaan profesi itu harus selalu ditanamkan.
Workshop Metode Penelitian Bidang Kepustakawanan menghadirkan pembicara yang sekaligus merupakan pakar ilmu perpustakaan yaitu Bapak Agus Rifa’i, PhD. Beliau mengatakan bahwa Riset merupakan proses investigasi sistematis untuk mengembangkan atau merevisi pengetahuan yang ada dengan menemukan fakta baru.
Pada kegiatan tersebut Agus Rifa’i,PhD menjelaskan bahwa penelitian kepustakawanan dapat menggunakan teori yang “dikawinkan” dengan bidang lain, misalnya dengan bidang Pemasaran, ada teori 4P yang bisa diadopsi untuk kajian pemasaran perpustakaan. Teori-teori kebutuhan, teori life style dll dapat juga digunakan. “Sehingga pustakawan yang mempunyai latar belakang pendidikan bukan ilmu perpustakaan jangan berkecil hati, tetap bisa melakukan penelitian kepustakawanan,”jelas pak Agus.
Untuk memilih pendekatan apa yang akan diambil dalam melakukan riset/kajian dipengaruhi oleh sifat dan tujuan riset yang akan kita lakukan: (1) Riset kualitatif merupakan pendekatan penelitian untuk memahami secara mendalam terhadap suatu fenomena atau masalah penelitian, atau berfifat eksploratif (exploratory research).;(2)Riset kuantitatif berusaha menjelaskan suatu fenomena, dan atau hubungan antar fenomena berdasarkan karekteristik yang dimilikinya (explanatory research)
Dalam forum tersebut, peserta diajak untuk aktif dengan banyak bertanya menggali ide dan sekaligus konsultasi atas penelitian yang sedang dilakukan dan sedang direncanakan. Beberapa peserta yang bertanya diantaranya: Mas Itmam (pustakawan IAIN Salatiga), Mbak Junaeti (pustakawan IAIN Pekalongan), mbak Ifo (Pustakawan IAIN Salatiga), dll.
Forum semacam ini sangat diperlukan pustakawan, untuk mengasah kemampuan melakukan riset. Diharapkan akan ada kegiatan-kegiatan berikutnya yang digagas oleh Apptis dan anggota-anggotanya bagi kemajuan Pustakawan PTKIN khususnya dan Pustakawan Indonesia pada umumnya.

Reported by : Indah

Seminar Nasional dan Rakernas APPTIS

Kudus (APPTIS) — semboyan, yel-yel, prototipe, atau tagline dan berbagai istilah lainnya yang dianggap mampu memompa motivasi kerja dan pergerakan, dalam pendekatan psikologis menjadi perangkat yang perlu ada pada setiap organisasi. Semacam alat picu jantung yang memompa jantung dari lemahnya detak, tagline menjadi simbol gagah yang bisa digunakan memberi semangat, mengarahkan, dan memberi rel laju sebuah organisasi. Tidak terkecuali Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS), pada acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) Tanggal 30 – 31 Juli 2019 di Perpustakaan IAIN Kudus, Ketua Umum APPTIS Labibah Zain. Menyatakan dan menetapkan “Sharing, Inspiring, dan empowering” menjadi taglne APPTIS yang akan diejawantahkan pada setiap kegiatan.
Selain terdapat ketetapan tagline, raker juga memberikan input kebangsaan bahwa di samping evalusi ketercapaian program juga menghasilkan program-program yang perlu dipertimbangkan dalam Grand Design Perpustakaan PTKIN 2020-2024.
Pada rangkaian raker, dilaksanakan pula kegiatan Seminar Nasional, Call for Paper serta Cultural Visit. Pembicara pada seminar nasional adalah Dr.Ismail Fahmi dan Prof. Eko Indrajit. Reviewer Call For Paper digawangi oleh Faizudin Harliyansah, M.A dan Mufid, M.Hum. dan juga kegiatan Pelatihan Indonesia Onesearch yang di fasilitatori oleh Muhamad Hamim, S.Kom dan Miswan, S.Ag., SIP., M.Hum. Di sela kesempatan, ketua APPTIS menyempaikan pencapaian dua tahun terakhir bahwa APPTIS sudah berbadan hukum, Draft PMA terkait dengan kelembagaan Perpustakaan yang sudah diusulkan ke Kementrian Agama, Penyusunan Draft Grand Desain perpustakaan, Repository IOS cluster PTKI OSPL, serta Pemetaan Perpustakaan PTKI. Tak lupa Bapak Dirjen Prof Kamarudin Amin serta Dr Arsykal Salim yang kebijakan kebijakan mereka sangat mendukung pengembangan Perpustakaan.

reported by : Wiji