Author - admin

Kegiatan Training of Tainer (TOT) Pustakawan Perguruan Tinggi

Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama RI bekerjasama dengan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan kegiatan Training of Trainer (TOT) yang pertama. Kegiatan TOT ini diadakan di Hotel New Saphir, Jalan Laksda Adisucipto No. 38 Yogyakarta pada tanggal 21-26 November 2018. Kegiatan tersebut melibatkan 20 orang pustakawan 17 PTKIN di Indonesia.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Dra. Imas Maesaroh, M.Lib., Ph.D, dan Dr. Nur Kholis, M.Pd., dari UIN Sunan Ampel Surabaya serta Dr. Labibah Zein, MA. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk meningkatkan kemampuan menjadi fasilitator yang baik, berbagai simulasi dan praktek diadakan. Dengan menggunakan metode pembelajaran andragogy, peserta training dilatih menggunakan tehnik dan metode untuk menghadapi adult learner. Selain itu, para peserta training juga dituntut untuk membuat 13 modul pelatihan dari 7 tema besar, yaitu library management, collection development policy, library marketing, reference services, library technology, knowledge inflow by innovation in libraries and entrepreneurship, serta library development strategy in the users perspectif.
Pada sambutan di kegiatan penutupan, bapak Kasubdit Ketenagaan Drs. Syafi’I, M.Ag. menyatakan bahwa kegiatan Training of Trainer (TOT) adalah kegiatan yang sangat strategis untuk menciptakan fasilitator-fasilitator yang mempunyai skill dalam mengadakan berbagai pelatihan dan menjadi fasilitator. Dan hal ini sangat relevan dalam usaha peningkatan kapasitas profesionalisme SDM Kementerian Agama di bawah PTKIN, khususnya bagi pustakawan yang bergerak di bidang informasi dalam menghadapi perkembangan teknologi industry 4.0. Kegiatan-kegiatan yang serupa seperti ini hendaknya harus terus dikembangkan dan dilaksanakan di berbagai daerah untuk memperbanyak jumlah trainer di lingkungan PTKIN khususnya, dan Kementerian agama umumnya. Keberadaan trainer serta didukung dengan variasi kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk pustakawan akan meningkatkan profesionalisme pustakawan dalam menyikapi pesatnya perkembangan informasi dan teknologi yang terjadi pada usernya.

Reported by : RIKA KURNIAWATY, M.HUM.

WORKSHOP OPEN EDUCATIONAL RESOURCES ( LIBRARY 4.0: OPEN EDUCATIONAL RESOURCES AND CUSTOMER ENGAGEMENT)

Perpustakaan dituntut untuk selalu mengelola menyajikan, dan mendistribusikan sumber-sumber informasi yang relevan dengan kebutuhan pemustakanya. Tuntutan kemudahan akses dan ketersediaan sumber-sumber informasi yang lengkap serta up to date juga semakin tinggi, terlebih lagi terhadap perpustakaan perguruan tinggi sebagai perpustakaan riset yang melayani sivitas akademika yang selalu memproduksi hasil karya ilmiah. Pada sisi lain, perpustakaan menghadapi persoalan klasik yang selalu melingkupi yaitu minimnya anggaran, bahkan adakalanya terjadi pengurangan anggaran.

Selain itu pada masa ini masalah plagiarisme juga menjadi tantangan perpustakaan dalam upaya mengembangkan material perpustakaan. Berbagai persoalan yang dihadapi, seyogyanya justru mendorong perpustakaan untuk kreatif dan tetap memberikan layanan terbaiknya. Dalam upaya peningkatan sumber-sumber informasi melalui strategi penelusuran dan penyajian sumber-sumber informasi yang up to date, free access, perpustakaan harus berhati-hati dengan memperhatikan legalitas dan tanpa terjebak pada tindak plagiarisme.

Demikian beberapa hal yang disampaikan oleh pembicara tunggal Dr. Taufiq A. Gani, S.Kom, M.Eng.Sc, dosen dan Kepala Perpustakaan UIN Syahkuala Banda Aceh pada hari Senin, 29 Oktober 2018 di ruang serbaguna lantai satu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Narasumber yang terkenal dengan panggilan TOPGAN ini memaparkan tentang Library 4.0: Open Educational Resources and Customer Engagement yang dikemas dalam “Workshop Open Eucational Resource”. Workshop yang berlangsung selama setengah hari ini dihadiri oleh 45 orang peserta dari empat belas instansi pendidikan negeri dan swasta di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta satu instansi dari Sorong.

Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Dra Labibah Zain, MLIS dalam sambutannya pada saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan workshop ini merupakan sebuah bentuk kreatifitas program perpustakaan dengan dana minimal. Meskipun demikian pihaknya berharap workshop OER ini sebagai upaya knowledge transfer yang dapat menjangkau banyak pihak yang berkompeten di bidang perpustakaan untuk belajar bersama dan menyerap banyak pengetahuan dari narasumber.(Ist)

Workshop Peningkatan Kapasitas Soft Skill Pengelola Perpustakaan IAIN Kediri

Tantangan baru perpustakaan ke depan berupa pelayanan yang lebih kreatif, manusiawi, dan unggul sehingga dapat diterima dengan baik oleh penggunanya. Keseluruhan itu semua memerlukan sebuah kemampuan dari pengelola peprustakaan. Salah satunya apa yang dikenal dengan istilah softskill. Soft skill ini menekankan kepada kemampuan pengelola perpustakaan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna. Seseorang dengan kemampuan soft skill yang baik memeiliki karakter yang yang baik, komunikasi yang ramah dan pribadi yang tulus dalam melayani pengguna.

Untuk mencapai sioft skill yang mumpuni memerlukan sebuah pengetahuan dan pengalaman yang terarah. Salah satu upayanya dengan melakukan sebuah Workshop yang berupaya mengenalkan konsep soft skill dan bagiamana mengimplementasikannya dengan baik di perpustakaan. Kegiatan ini bertujuan memberikan bekal kepada pengelola perpustakaan dalam mengembangkan softskill layanan perpustakaan. Dengan kemampuan softskill diharapkan dapat meningkatkan peran dan fungsi perpustakaan secara lebih baik bagi penggunanya.

Sesi pertama kegiatan Workshop yang dilaksanakan pada hari selasa tanggal 23 Oktober 2018 ini diisi dengan peningkatan profesionalisme pustakawan dengan memberikan pengetahuan tentang tugas pokok dan fungsi pustakawan. Pustakawan harus menjadi pustakawan yang cerdas dalam menyiasati antara profesionalisme pekerjaan dengan reporting sebagai tuntutan administrasi pustakawan. Pustakawan harus mampu melayani pemustaka dengan baik sekaligus juga harus mampu menyelesaikan kegiatan-kegiatan administratif dalam rangka pengajuan Daftar Usulan Angka Kredit yang berimbas pada kenaikan jabatan seorang pustakawan. pada sesi ini, Bapak Muhammad Mansur selaku pemateri memberikan tips dan trik dalam rangka pemenuhan kebutuhan pengajuan DUPAK tanpa harus meninggalkan pekerjaan rutin yang dibebankan kepada seorang pustakawan. pada sesi kedua, Bapak Ilham Mashuri (pemateri) menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan soft skil penulisan yang nantinya menjadi bekal bagi pustakawan untuk menjalani profesinya sebagai pustakawan.

APPTIS Peduli Palu

Bpk/Ibu yang Budiman, APPTIS turut berduka atas musibah Gempa dan Tsunami di Palu dan sekitarnya. Sebagai wujud kepedulian maka APPTIS kembali membuka kesempatan kepada bpk/Ibu untuk membantu meringankan korban gempa dengan memberikan donasi melalui kegiatan “APPTIS Peduli”. bagi yang hendak memberikan donasinya dapat dikirim melalui rekening an. Komarudin di BRI Cabang Kediri dengan Nomor 0033-01-037606-507. Demikian kami sampaikan semoga Alloh SWT memberikan kelapangan rezeki bagi kita semuanya.

USER EDUCATION DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG

Kegiatan user education di perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang berlangsung dari tanggal 27 Agustus s/d 7 September 2018. Dalam satu hari kegiatan ini dilaksanakan 5 sesi yang dibagi berdasarkan jurusan, untuk jurusan yang jumlahnya banyak dibagi lagi dalam beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari 100 peserta. Peserta kegiatan ini adalah mahasiswa baru dari berbagai fakultas di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang yang berjumlah  4.616 orang. Pemateri kegiatan ini adalah pustakawan dan dosen ilmu perpustakaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Rektor I Dr. Ismail Sukardi, M.Ag. Dalam kata sambutannya Bapak Ismail memberikan motivasi kepada mahasiswa baru untuk menjadi mahasiswa yang berkarakter, unggul dan sukses. Indikator sukses menurut beliau  adalah : 1. Studi selesai tepat waktu (4 tahun atau 8 semester) 2. IPK minimal 3,01 setiap semester, 3. Mampu berbahasa Asing 4. Berkarakter dan Berkinerja baik, 5. Memiliki Soft Skill, 6. Menguasai ICT (Information, Comunication, Tekhnology). Untuk menjadi mahasiswa yang  sukses: pertama, Memiliki Keahlian Berkomunikasi, Kedua, Keahlian Berkolaborasi/Kerjasama, Ketiga, cara Berfikir yang Baik, keempat, Mampu memecahkan masalah, lanjut beliau.

Kepala perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Nurmalina S.Ag.SS. M.Hum. melaporkankan bahwa tujuan dari kegiatan ini  adalah pertama mengenalkan perpustakaan kepada mahasiswa baru, diharapkan dengan mereka tahu keberadaan perpustakaan mereka akan rajin berkunjung ke perpustakaan. Kedua, Setelah mereka mengenal perpustakaan, mereka bisa mengakses dan menggunakan fasilitas yang disediakan perpustakaan. Ketiga, mereka bisa menemukan informasi yang dibutuhkan untuk membantu proses perkuliahan  sehingga mereka bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan.

Sebagai penutup laporannya kepala perpustakaan menyampaikan bahwa kegiatan ini   juga sebagai upaya untuk mewujudkan peran perpustakaan dalam menunjang tri dharma perguruan tinggi dan berharap  semua peserta untuk rajin berkunjung ke perpustakaan.

 

APPTIS “Peduli” Lombok

Gempa bumi tektonik yang mengguncang Lombok, Bali dan Sumbawa terjadi pada hari Minggu, 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 skala richter di kedalaman 25 km. Gempa tersebut kemudian diikuti dengan guncangan gempa bumi susulan bertubi-tubi. Hingga hari Senin pukul 10.00 WIB, telah terjadi 280 kali gempa susulan dengan magnitude (kekuatan gempa) yang lebih kecil. Tercatat korban yang meninggal dunia berjumlah 17 orang, 401 orang luka-luka, dan lebih dari 10.062 orang mengungsi di 13 titik pengungsian karena gempa tersebut. Sementara  bangunan rusak terdata berjumlah 5.448 unit.

Namun gempa bermagnitudo 6,4 skala richter pada hari Minggu 29 Juli 2018 ternyata adalah fore shock (gempa awalan). Saat masyarakat Lombok belum pulih dari traumanya, dan pemerintah daerah baru berbenah untuk meluncurkan program-program rehabilitasi dan rekonstruksinya, saat para donatur dan relawan masih berada di kamp-kamp pengungsi untuk memberikan bantuan, gempa yang lebih besar bermagnitudo 7.0 skala richter terjadi seminggu kemudian (Minggu, 5 Agustus 2018).

Gempa-gempa susulan yang terjadi setelah main shock menambah trauma para pengungsi dan penduduk Lombok. BMKG bahkan mencatat bahwa telah terjadi 576 gempa susulan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat hingga Minggu (12 Agustus 2018) sejak main shock 7.0 skala richter terjadi.

Jumlah korban gempa yang tercatat pada hari Senin, 13 Agustus 2018, meningkat drastis. Korban meninggal (sebagian besar akibat tertimpa bangunan roboh) sebanyak 436 orang, korban luka yang dirawat mencapai 1.353 orang, dan 352.793 orang mengungsi. Kerugian ditaksir mencapai Rp. 5,04 triliun.

Dwikorita Karnawati (Kepala BMKG Pusat) menerangkan bahwa gempa bumi yang terjadi di Lombok adalah gempa bumi dangkal yang diakibatkan oleh  aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust). Namun pemicu gempa tersebut adalah deformasi batuan (endapan) vulkanik  dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Walaupun masih akan ada gempa-gempa susulan selama beberapa minggu ke depan dengan kekuatan gempa yang fluktuatif, Dwikorita menyatakan bahwa energi terkuat telah selesai. Sehingga walaupun masyarakat Lombok masih harus tetap waspada, namun sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Bantuan untuk para pengungsi dan korban gempa berdatangan, baik secara individu, maupun dari organisasi, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Diantaranya adalah dari APPTIS. Sebagai Forum kerjasama antar Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam, APPTIS merasa terpanggil untuk membantu korban bencana gempa bumi di pulau seribu mesjid.

Komunitas perpustakaan perguruan tinggi di bawah naungan Kemenag ini juga aktif menggalang dana bantuan dari pihak lain. Sumbangan-sumbangan tersebut kemudian dibelikan berbagai perlengkapan kebutuhan pengungsi, seperti tikar, terpal, beras, minyak, susu dan popok bayi, alat mandi, obat-obatan, dan mie instan. Perlengkapan tersebut kemudian dibawa ke desa Penyambuan dan desa Gangga, dua desa yang ada di Kabupaten Lombok Utara yang terdampak gempa serius. Di daerah ini 90% bangunan roboh, dengan jumlah pengungsi sekitar 400an jiwa lebih.

Saat serah terima bantuan, Fahrurrizi, S.Sos. (pustakawan UIN Mataram), menyampaikan salam hangat dari teman-teman APPTIS, dan harapan agar sumbangan yang diberikan dapat meringankan beban para pengungsi di kedua desa yang terdampak.

Walaupun rangkaian gempa bumi Lombok belum bisa diketahui kapan akan berakhir, namun semangat saling membantu yang ditunjukkan oleh anggota APPTIS menunjukkan pesan tersirat. Pesan tersebut adalah bencana bisa datang dimana saja dan kapan saja, namun selama kita merasa satu iman, bersaudara, dan saling berempati, maka pertolongan bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja.

 

Salam hangat kami dari Lombok…

      

Reported by : Rika Kurniawaty (Pustakawan UIN Mataram)

APPTIS Peduli Gempa Bumi di Lombok 05-08-2018

Pada tanggal 05 Agustus 2018 sebagian daerah di Indonesia yaitu Pulau Lombok dan sekitarnya telah diguncang oleh gempa bumi dengan kekuatan 7.0 SR. Mari kita sisihkan sebagian rejeki kita untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana gempa bumi melalui bendahara APPTIS dengan berdonasi ke rekening :

Rekening BRI Cab. KEDIRI
a.n Komarudin no. 003301037606507

*Mohon konfirmasi setelah melakukan donasi ke nomor handphone 081-335-778575 a.n Komarudin

Jazakumulloh khoiron

Workshop Open Educational Resources di Perpustakaan IAIN Kudus

Workshop Open Educational Resources, diselenggarakan oleh UPT perpustakaan IAIN Kudus pada hari Senin tanggal 16 Juli 2018, bertempat di lantai 3 gedung rektorat IAIN Kudus. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Taufiq Abdul Gani, M.Eng.Sc dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Dr. H. Mundakir, M.Ag selaku rektor IAIN Kudus dan Dr. Nor Hadi, SE, M.Si,Akt,CA selaku wakil rektor 2 IAIN Kudus. Kegiatan workshop ini dihadiri oleh 91 Peserta yang terdiri dari para Kajur, Kaprodi, kepala unit ,dosen, dan pustakawan di lingkungan IAIN Kudus, serta kepala sekolah dari beberapa SMA/MA di Kabupaten Kudus, dan Kepala Perpustakaan Perguruan tinggi di Kabupaten Kudus dan sekitarnya

Rektor IAIN Kudus  Dr. H. Mundakir, M.Ag ketika memberikan materi menegaskan bahwa unsur pimpinan di IAIN Kudus memiliki komitmen yang tinggi untuk mendukung kebijakan pengembangan OPEN EDUCATIONAL RESOURCES sebagai sumber belajar terbuka dan digital di IAIN Kudus ditunjang dengan pembangunan  gedung perpustakaan 4 lantai yang insya Allah pembangunanya akan selesai pada bulan Desember 2018 dengan nilai 42,5 M. Sedangkan, Dr. Nor Hadi, SE, M.Si,Akt,CA menyampaikan hal-hal berkaitan dengan kebijakan penggunaan anggaran terutama untuk OER

Dalam Workhshop ini Narasumber Dr. Taufiq Abdul Gani, M.Eng.Sc. mengenalkan  tentang penggunaan software dan pengembangan  koleksi OER di  perpustakaan Unsyiah serta menyampaikan bahwa saat ini banyak bertambah personal atau lembaga pendidikan tinggi yang berbagi sumber daya belajar lewat internet secara terbuka tanpa biaya, dan dikenal sebagai Open Educational Resources (OER). Keuntungan menggunakan OER untuk Mahasiswa, OER menawarkan penghematan biaya dalam jumlah besar sebagai alternatif dari textbooks yang mahal. Sedangkan, bagi dosen bahan tersebut dapat diadaptasikan ke bahasa lokal dan menggunakanya secara inovatif. Menurut narasumber Dr. Taufiq Abdul Gani,penggunaan dan  pengembangan koleksi OER tersebut harus memperhatikan lisensi dan creative common.

Pada akhirnya melalui kegiatan workshop ini, diadakan kerjasama MOU antara UPT perpustakaan IAIN Kudus dan Perpustakaan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dalam hal pengembangan koleksi OER di masing-masing instansi.

Reportase kegiatan Congress of Southeast Asian Librarians ke-17 (CONSAL XVII) di Naypyitaw, Myanmar.

Oleh : Ahmad Syawqi (UIN Antasari Kalimantan Selatan)

 

Myanmar menjadi tuan rumah Kongres Pustakawan se-Asia Tenggara atau Congress of Southeast Asian Librarians ke-17 (CONSAL XVII) yang akan diadakan di Naypyitaw, Myanmar pada tanggal 2-5 Mei 2018 dengan tema “Next Generation Libraries: Collaborate and Connect” atau Perpustakaan Generasi Berikutnya: Berkolaborasi dan Terhubung.

CONSAL merupakan kongres pustakawan se-Asia Tenggara yang diadakan setiap 3 tahun sekali dan diselenggarakan secara bergilir di masing-masing negara anggota, khususnya negara-negara  ASEAN yang menjadi wadah organisasi pustakawan se-Asia Tenggara yang didirikan di Singapura pada tahun 1970 sebagai tindak lanjut dari tumbuhnya identitas diri di negara-negara di kawasan tersebut, terutama didorong oleh terbentuknya ASEAN. Saat ini CONSAL terdiri dari 10 negara anggota ASEAN yang mencakup perpustakaan nasional serta asosiasi/ikatan perpustakaan dan pustakawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar dan Brunei Darussalam.

Pada kongres tersebut akan berkumpul pustakawan se-Asia Tenggara untuk menginformasikan berbagai hal terbaru di dunia perpustakaan dan kepustakawanan. Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai ajang promosi bidang perpustakaan di Indonesia sekaligus ajang promosi kesenian dan budaya Indonesia. Namun, sayangnya pertemuan para pustakawan biasanya luput dari perhatian masyarakat umumnya dan media massa khususnya. Padahal peran pustakawan dan perpustakaan bagi masyarakat sangat penting, jika dibandingkan dengan profesi lainnya.

Dalam setiap kongres yang diadakan di masing-masing negara anggota, biasanya yang menjadi tuan rumah/panitia adalah Perpustakaan Nasional dan Ikatan/Asosiasi Profesi Pustakawan yang ada pada masing-masing negara anggota. Di Indonesia sendiri kegiatan ini ditangani oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI).

CONSAL sebagai ajang pertemuan para pustakawan di Asia Tenggara merupakan sarana yang tepat untuk mengadakan tukar pengalaman dan tukar pikiran dalam mengembangkan pengetahuan tentang perpustakaan dan profesi pustakawan serta mengantisipasi perkembangan dunia perpustakaan dan kepustakawanan di masa depan. Selain kegunaannya bagi perkembangan dunia perpustakaan dan profesi pustakawan. Kongres ini juga dapat memberi sumbangan kepada bertambah eratnya saling pengertian dan persahabatan serta kerjasama saling bermanfaat antara bangsa-bangsa di kawasan Asian Tenggara.

Sejak di mulainya Kongres Pustakawan se-Asia Tenggara yang pertama di Singapura pada tanggal 14-16 Agustus 1970 sampai dengan yang terakhir Kongres ke 16 yang diadakan di Bangkok, Thailand pada tanggal 11-13 Juni 2015,, telah banyak masalah-masalah dan gagasan-gagasan yang dibicarakan yang berkaitan dengan kemajuan dunia perpustakaan dan profesi pustakawan di kawasan Asia Tenggara, khususnya negara-negara anggota CONSAL. Tetapi mungkin kita perlu mengkaji apakah setelah 16 kali CONSAL melakukan kongres banyak manfaat yang telah didapat dari kegiatan kongres tersebut. Tentunya yang diharapkan oleh semua negara peserta CONSAL, setelah kongres ada perubahan-perubahan  yang dilakukan dalam hal pengembangan dunia perpustakaan dan profesi kepustakawan di masing-masing negara peserta.

 

Profesiorialisme Pustakawan

Pustakawan diakui sebagai suatu jabatan profesi dan sejajar dengan profesi-profesi lain seperti profesi dokter, peneliti, guru, dosen, hakim, dan Iain-lain. Profesi secara umum diartikan sebagai pekerjaan. Menurut Sulistyo-Basuki (1991) ada beberapa ciri dari suatu profesi seperti (1) adanya sebuah asosiasi atau organisasi keahlian, (2) terdapat pola pendidikan yang jelas, (3) adanya kode etik profesi, (4) berorientasi pada jasa, (5) adanya tingkat kemandirian. Karena pustakawan merupakan suatu profesi, maka untuk menjadi pustakawan seseorang harus tunduk kepada ciri-ciri profesi tersebut.

Menurut Saleh (2004): “suatu jabatan umumnya sangat terkait dengan masalah profesionalisme. Istilah profesionalisme biasanya dikaitkan dengan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku dalam mengelola dan melaksanakan pekerjaan/tugas dalam bidang tertentu. Profesionalisme pustakawan tercermin pada kemampuan (pengetahuan, pengalaman, keterampilan) dalam mengelola dan mengembangkan pelaksanaan pekerjaan di bidang kepustakawanan serta kegiatan terkait lainnya secara mandiri. Kualitas hasil pekerjaan inilah yang akan menentukan profesionalisme mereka. Ini artinya bahwa di dalam melaksanakan tugas iliki sejumlah kokepustakawanannya secaraprofesional maka seorang pustakawan harus memiliki kompetensi, yaitu kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas/ pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan. Pustakawan profesional dituntut menguasai bidang ilmu kepustakawanan, memiliki keterampilan dalam melaksanakan tugas/pekerjaan kepustakawanan, melaksanakan tugas/ pekerjaannya  dengan motivasi yang tinggi yang dilandasi oleh sikap dan kepribadian yang menarik, demi mencapai kepuasan pengguna”.

Dengan demikian, apabila pustakawan Indonesia ingin bersaing di dalam memperebutkan pasar kerja baik di ASEAN maupun di dunia, mau tidak mau para pustakawan harus meningkatkan kualitasnya sehingga standar kompetensinya sejajar atau paling tidak bisa mendekati standar kompetensi yang berlaku di negara maju.