Author - admin

Pustakawan anggota APPTIS ikuti kursus musim panas FSCI 2019 di UCLA

Salah satu pustakawan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang juga merupakan anggota APPTIS, Ari Zuntriana, berkesempatan memperoleh beasiswa untuk mengikuti kursus musim panas bidang komunikasi ilmiah di kampus University of California Los Angeles (UCLA). Kursus ini merupakan hasil kerjasama antara FORCE11 dan kampus UCLA. FORCE11 merupakan lembaga non pemerintah yang bergerak dalam pengembangan komunikasi ilmiah. Organisasi ini berkedudukan di San Diego, California.

Dalam kegiatan ini, Ari mengikuti tiga kelas, yaitu penerapan prinsip FAIR dalam pengelolaan data riset, penerapan Dataverse untuk manajemen data riset, dan open publishing untuk kepentingan pedagogis. Kegiatan kursus ini juga diselingi dengan beberapa acara lain, seperti forum plenary sessions dan lightning talk. Dalam forum lightning talk, Ari yang juga merupakan anggota Tim Sains Terbuka (TST) Indonesia mempresentasikan perkembangan sains terbuka di Indonesia yang dimotori oleh TST.

Tentu banyak hasil pengamatan dan pelajaran yang dibawa pulang ke Indonesia. Namun, ada tiga poin penting yang diangkat oleh Ari sebagaimana yang ditulisnya di blog-nya.

Pertama, perkembangan komunikasi ilmiah secara internasional.

Meski tingkat kemajuannya bervariasi di banyak negara, ada banyak juga faktor kesamaan. Misalnya tentang perkembangan pra-cetak atau pre-print di negara-negara maju yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Meski pengelolaan data riset sudah cukup baik, ternyata belum semua peneliti dengan sadar mau melakukan arsip mandiri. Tantangan ini bisa ditemui di negara maju maupun negara berkembang.

Demikian juga dengan aspek prinsip-prinsip FAIR (findable, accessible, interoperable, and reusable) dalam manajemen data riset . Beberapa teman pustakawan bidang medis asal AS bercerita mengenai sulitnya mengakses data yang bisa digunakan kembali. Di lapangan, aspek FAIR belum sepenuhnya terimplementasikan dengan baik dan ideal.
Dari paparan beberapa kolega di Amerika Latin dan Afrika, geliat gerakan akses terbuka di kedua wilayah tersebut cukup baik. Melihat sejarahnya, Amerika Latin malah dapat disebut sebagai salah satu pelopor akses terbuka di dunia. Masalah yang mereka hadapi saat ini adalah tarik ulur antar penerbit, antara mau berkolaborasi atau berkompetisi dengan satu sama lain.

Sedangkan untuk Afrika, yang menarik adalah bahwa motor penggerak akses terbuka kini mulai berdatangan dari generasi yang lebih muda, para mahasiswa. Beberapa di antara mereka adalah alumni kegiatan OpenCon di luar Afrika. Saya cukup optimistis Indonesia juga bisa seperti Afrika mengingat mulai adanya bibit-bibit muda yang sadar tentang pentingnya pengetahuan terbuka.

Kedua, tentang pentingnya upaya kolaborasi. Semua bentuk inisiatif gerakan terbuka, mau itu sains terbuka, akses terbuka, dan lain sebagainya, memerlukan kolaborasi banyak pihak yang berkepentingan untuk bisa maju dan berkembang. Di tataran universitas, misalnya, akademisi, peneliti, pustakawan, dan mahasiswa perlu menjalin kerjasama dalam memajukan gerakan terbuka. Di forum ini saya melihat antusiasme yang besar baik dari kalangan akademisi maupun praktisi dalam mendukung gerakan terbuka.
Di tingkat nasional dalam konteks Indonesia, mungkin upaya kolaborasi sudah mulai berjalan. Namun, dalam praktik sehari-hari, kita bisa melihat bahwa terkadang yang berjalan hanya satu pihak, misalnya dosen saja atau pustakawan saja. Menggantungkan nasib gerakan akses terbuka hanya pada satu pihak jelas bukan langkah cerdas. Demikian juga dengan kaderisasi. Perlu lebih banyak orang muda yang harus terlibat dalam gerakan terbuka di Indonesia.

Terkait dengan gerakan akses terbuka di Indonesia, otokritik saya untuk komunitas pustakawan akademik, mengapa tidak mengambil peran lebih besar dan mulai memperkuat kemampuan advokasi. Secara umum, saya melihat kemampuan advokasi para pustakawan Indonesia masih cukup lemah, terutama dalam hal mengawal gerakan terbuka di kampusnya masing-masing. Akses terbuka di Indonesia sudah berusia cukup panjang, mungkin sudah satu dekade, tetapi apakah kita sudah melihat berapa jumlah repositori institusi yang menyediakan akses publik untuk hasil riset di perguruan tinggi?

Ketiga, jika institusi ingin maju, perkuat sumberdaya pustakawan. Catatan terakhir ini khusus untuk pustakawan perguruan tinggi dan manajemen universitas. Pembangunan universitas harus menyeluruh dan melibatkan banyak aktor-aktor, di antaranya adalah kalangan pustakawan. Alangkah baik jika kampus mendukung sepenuhnya upaya pustakawan untuk mengembangkan diri. Pustakawan yang berdaya dan memahami perannya tentu akan berkontribusi lebih besar bagi universitas. Sulit membayangkan sebuah universitas akan betul-betul maju di semua lini, jika pustakawannya belum sepenuhnya teberdayakan dengan baik.

Dari ketiga catatan ini, saya berharap banyak gerakan terbuka semakin memperoleh tempat di Indonesia. Semakin banyak pemain, semakin banyak orang muda yang terlibat, dan semakin banyak inisiatif yang muncul.

Reported by Ari Zuntriana

Workshop Metode Penelitian Bidang Kepustakawanan

Kegiatan workshop bidang kepustakawanan yang dilaksanakan UIN Walisongo pada Hari Rabu, 4 September 2019 di gedung Perpustakaan UIN Walisongo. Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutanya, beliau mengataka bahwa kebanggaan profesi itu harus selalu ditanamkan.
Workshop Metode Penelitian Bidang Kepustakawanan menghadirkan pembicara yang sekaligus merupakan pakar ilmu perpustakaan yaitu Bapak Agus Rifa’i, PhD. Beliau mengatakan bahwa Riset merupakan proses investigasi sistematis untuk mengembangkan atau merevisi pengetahuan yang ada dengan menemukan fakta baru.
Pada kegiatan tersebut Agus Rifa’i,PhD menjelaskan bahwa penelitian kepustakawanan dapat menggunakan teori yang “dikawinkan” dengan bidang lain, misalnya dengan bidang Pemasaran, ada teori 4P yang bisa diadopsi untuk kajian pemasaran perpustakaan. Teori-teori kebutuhan, teori life style dll dapat juga digunakan. “Sehingga pustakawan yang mempunyai latar belakang pendidikan bukan ilmu perpustakaan jangan berkecil hati, tetap bisa melakukan penelitian kepustakawanan,”jelas pak Agus.
Untuk memilih pendekatan apa yang akan diambil dalam melakukan riset/kajian dipengaruhi oleh sifat dan tujuan riset yang akan kita lakukan: (1) Riset kualitatif merupakan pendekatan penelitian untuk memahami secara mendalam terhadap suatu fenomena atau masalah penelitian, atau berfifat eksploratif (exploratory research).;(2)Riset kuantitatif berusaha menjelaskan suatu fenomena, dan atau hubungan antar fenomena berdasarkan karekteristik yang dimilikinya (explanatory research)
Dalam forum tersebut, peserta diajak untuk aktif dengan banyak bertanya menggali ide dan sekaligus konsultasi atas penelitian yang sedang dilakukan dan sedang direncanakan. Beberapa peserta yang bertanya diantaranya: Mas Itmam (pustakawan IAIN Salatiga), Mbak Junaeti (pustakawan IAIN Pekalongan), mbak Ifo (Pustakawan IAIN Salatiga), dll.
Forum semacam ini sangat diperlukan pustakawan, untuk mengasah kemampuan melakukan riset. Diharapkan akan ada kegiatan-kegiatan berikutnya yang digagas oleh Apptis dan anggota-anggotanya bagi kemajuan Pustakawan PTKIN khususnya dan Pustakawan Indonesia pada umumnya.

Reported by : Indah

Seminar Nasional dan Rakernas APPTIS

Kudus (APPTIS) — semboyan, yel-yel, prototipe, atau tagline dan berbagai istilah lainnya yang dianggap mampu memompa motivasi kerja dan pergerakan, dalam pendekatan psikologis menjadi perangkat yang perlu ada pada setiap organisasi. Semacam alat picu jantung yang memompa jantung dari lemahnya detak, tagline menjadi simbol gagah yang bisa digunakan memberi semangat, mengarahkan, dan memberi rel laju sebuah organisasi. Tidak terkecuali Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS), pada acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) Tanggal 30 – 31 Juli 2019 di Perpustakaan IAIN Kudus, Ketua Umum APPTIS Labibah Zain. Menyatakan dan menetapkan “Sharing, Inspiring, dan empowering” menjadi taglne APPTIS yang akan diejawantahkan pada setiap kegiatan.
Selain terdapat ketetapan tagline, raker juga memberikan input kebangsaan bahwa di samping evalusi ketercapaian program juga menghasilkan program-program yang perlu dipertimbangkan dalam Grand Design Perpustakaan PTKIN 2020-2024.
Pada rangkaian raker, dilaksanakan pula kegiatan Seminar Nasional, Call for Paper serta Cultural Visit. Pembicara pada seminar nasional adalah Dr.Ismail Fahmi dan Prof. Eko Indrajit. Reviewer Call For Paper digawangi oleh Faizudin Harliyansah, M.A dan Mufid, M.Hum. dan juga kegiatan Pelatihan Indonesia Onesearch yang di fasilitatori oleh Muhamad Hamim, S.Kom dan Miswan, S.Ag., SIP., M.Hum. Di sela kesempatan, ketua APPTIS menyempaikan pencapaian dua tahun terakhir bahwa APPTIS sudah berbadan hukum, Draft PMA terkait dengan kelembagaan Perpustakaan yang sudah diusulkan ke Kementrian Agama, Penyusunan Draft Grand Desain perpustakaan, Repository IOS cluster PTKI OSPL, serta Pemetaan Perpustakaan PTKI. Tak lupa Bapak Dirjen Prof Kamarudin Amin serta Dr Arsykal Salim yang kebijakan kebijakan mereka sangat mendukung pengembangan Perpustakaan.

reported by : Wiji

APPTIS dan Alumni DELSMA Dilibatkan dalam Penyusunan Grand Design Perpustakaan PTKI Diktis

Pada Tanggal 3-5 Juli 2019 (Rabu-Jumat) di Bali Mandira Hotel, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ditjen Pendidikan Islam bekerjasama dengan APPTIS dan Alumni Delsma (Angkatan 1-3) merumuskan dan menyusun Grand Design Perpustakaan PTKIN tahun 2020-2024 sebagai rencana strategis dalam rangka percepatan peningkatan mutu perpustakaan PTKI menuju world class university library.
Pada saat pembukaan, Prof. Dr. M. Arskal Salim (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam) menegaskan pentingnya peran perpustakaan dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di PTKI sehingga transformasi perpustakaan perlu dilakukan secara baik dan terencana. Kemudian Ketua APPTIS, Labibah, dalam sambutannya juga menegaskan bahwa posisi perpustakaan bukan hanya sebagai unit pendukung PT, tapi perpustakaan sebagai unit yang terintegrasi dengan PT. Lebih lanjut, beliau menjelaskan, bahwa grand design yang dibuat berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi dengan sentuhan Standar Perpustakaan Internasional dari ACRL. Sementara Mufid mewakili APPTIS untuk memaparkan peta Perpustakaan PTKIN sebagai gambaran kondisi perpustakaan PTKIN saat ini.
Sejumlah 6 komisi (koleksi, sarana prasaran, pelayanan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan, dan penguat perpustakaan) yang bekerja untuk menyelesaikan penyusunan grand design perpustakaan PTKI. Masing-masing komisi akan bertanggungjawab untuk memetakan kondisi perpustakaan saat ini dan kebutuhan perpustakaan lima tahun ke depan.
Sebelum komisi bekerja, ada materi pembekalan yang disampaikan oleh Narasumber Faizuddin Harliansyah tentang pentingnya pengembangan perpustakaan berbasis standar perpustakaan. Salah satu standar perpustakaan internasional yang bisa dirujuk adalah Standar ACRL. Pembekalan ini untuk memberikan wacana baru pengembangan perpustakaan di negara-negara maju yang kemudian diharapkan bisa menjadi inspirasi dalam penyusunan grand design perpustakaan.
Pada Kamis pagi hingga sore, semua komisi bekerja seharian untuk menyelesaikan tugasnya. Kemudian kamis malam, semua komisi mempresentasikan hasil dan mendengarkan masukan-masukan dari komisi lain. Hasil presentasi tersebut akan dimatangkan lagi pada pertemuan di IAIN Kudus tanggal 30-31 Juli 2019. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.
Di bawah ini Susunan Keanggotaan Gugus Tugas Penyusun Grand Design Perpustakaan Perguruan Tinggi Kementerian Agama Islam Tahun 2019

Ketua : Mufid., S.Ag., SS., M.Hum.
Sekretaris : Sri Astuti, S.IP., M.IP.

Komisi Koleksi
Ketua : Umar Falahul Alam, S.Ag., SS., M.Hum
Anggota :
Ummi Rodliyah, S.Ag., S.IPI., M.Hum
Isrowiyanti, S.Ag., SS. MIP
L. Nailah Hanum Hanany, S.Sos, M.AP
Nurmalina, S.Ag., SS., M.Hum.

Komisi Sarana dan Prasarana
Ketua : Amrullah Hasbana, S.Ag., SS., MA.
Anggota :
Jajang Burhanuddin, S.Ag., SS., M.Hum.
Zaenal, S.Hum., M.Hum.
Moch Isra Hajiri, S.IPI., M.Hum.
Suherman, S.Ag., S.IP., M.Ec.
Anisa Listiana, S.Ag, M.Ag

Komisi Pelayanan
Ketua : Rika Kurniawaty, M.Hum.
Anggota :
Wahyani, S.Ag., SS., M.IP.
Triana Santi, S.Ag., SS., MM.
Indah Wijaya Antasary, S. Sos
Nana Muslina, S.Ag, SIP, M.Ag, MLIS

Komisi Tenaga Perpustakaan
Ketua : Ulpah Handayani, S.Ag., SS., M.Hum.
Anggota :
Junaeti, S.Sos
Muhammad Hamim, S.Kom.
Miswan, S.Ag, SS, MA

Komisi Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan
Ketua : Wiji Suwarno, S.Ag, S.Ipi, M.Hum
Anggota :
Syihabumilla, M.Hum.
Syafrinal, S.Ag., SS., M.Kom.
Aris Nurrohman, S. Hi, M.Hum

Komisi Penguat
Ketua : Komarudin, S.Ag., SS., M.Hum.
Anggota :
Dr. H. Muhammad Tawwaf, S.IP., M.Si.
Ifonila Yeniati, S.Pd.I., S.IPI.
Rhoni Rodin, M.Hum

Kegiatan Training of Tainer (TOT) Pustakawan Perguruan Tinggi

Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama RI bekerjasama dengan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan kegiatan Training of Trainer (TOT) yang pertama. Kegiatan TOT ini diadakan di Hotel New Saphir, Jalan Laksda Adisucipto No. 38 Yogyakarta pada tanggal 21-26 November 2018. Kegiatan tersebut melibatkan 20 orang pustakawan 17 PTKIN di Indonesia.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Dra. Imas Maesaroh, M.Lib., Ph.D, dan Dr. Nur Kholis, M.Pd., dari UIN Sunan Ampel Surabaya serta Dr. Labibah Zein, MA. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk meningkatkan kemampuan menjadi fasilitator yang baik, berbagai simulasi dan praktek diadakan. Dengan menggunakan metode pembelajaran andragogy, peserta training dilatih menggunakan tehnik dan metode untuk menghadapi adult learner. Selain itu, para peserta training juga dituntut untuk membuat 13 modul pelatihan dari 7 tema besar, yaitu library management, collection development policy, library marketing, reference services, library technology, knowledge inflow by innovation in libraries and entrepreneurship, serta library development strategy in the users perspectif.
Pada sambutan di kegiatan penutupan, bapak Kasubdit Ketenagaan Drs. Syafi’I, M.Ag. menyatakan bahwa kegiatan Training of Trainer (TOT) adalah kegiatan yang sangat strategis untuk menciptakan fasilitator-fasilitator yang mempunyai skill dalam mengadakan berbagai pelatihan dan menjadi fasilitator. Dan hal ini sangat relevan dalam usaha peningkatan kapasitas profesionalisme SDM Kementerian Agama di bawah PTKIN, khususnya bagi pustakawan yang bergerak di bidang informasi dalam menghadapi perkembangan teknologi industry 4.0. Kegiatan-kegiatan yang serupa seperti ini hendaknya harus terus dikembangkan dan dilaksanakan di berbagai daerah untuk memperbanyak jumlah trainer di lingkungan PTKIN khususnya, dan Kementerian agama umumnya. Keberadaan trainer serta didukung dengan variasi kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk pustakawan akan meningkatkan profesionalisme pustakawan dalam menyikapi pesatnya perkembangan informasi dan teknologi yang terjadi pada usernya.

Reported by : RIKA KURNIAWATY, M.HUM.

WORKSHOP OPEN EDUCATIONAL RESOURCES ( LIBRARY 4.0: OPEN EDUCATIONAL RESOURCES AND CUSTOMER ENGAGEMENT)

Perpustakaan dituntut untuk selalu mengelola menyajikan, dan mendistribusikan sumber-sumber informasi yang relevan dengan kebutuhan pemustakanya. Tuntutan kemudahan akses dan ketersediaan sumber-sumber informasi yang lengkap serta up to date juga semakin tinggi, terlebih lagi terhadap perpustakaan perguruan tinggi sebagai perpustakaan riset yang melayani sivitas akademika yang selalu memproduksi hasil karya ilmiah. Pada sisi lain, perpustakaan menghadapi persoalan klasik yang selalu melingkupi yaitu minimnya anggaran, bahkan adakalanya terjadi pengurangan anggaran.

Selain itu pada masa ini masalah plagiarisme juga menjadi tantangan perpustakaan dalam upaya mengembangkan material perpustakaan. Berbagai persoalan yang dihadapi, seyogyanya justru mendorong perpustakaan untuk kreatif dan tetap memberikan layanan terbaiknya. Dalam upaya peningkatan sumber-sumber informasi melalui strategi penelusuran dan penyajian sumber-sumber informasi yang up to date, free access, perpustakaan harus berhati-hati dengan memperhatikan legalitas dan tanpa terjebak pada tindak plagiarisme.

Demikian beberapa hal yang disampaikan oleh pembicara tunggal Dr. Taufiq A. Gani, S.Kom, M.Eng.Sc, dosen dan Kepala Perpustakaan UIN Syahkuala Banda Aceh pada hari Senin, 29 Oktober 2018 di ruang serbaguna lantai satu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Narasumber yang terkenal dengan panggilan TOPGAN ini memaparkan tentang Library 4.0: Open Educational Resources and Customer Engagement yang dikemas dalam “Workshop Open Eucational Resource”. Workshop yang berlangsung selama setengah hari ini dihadiri oleh 45 orang peserta dari empat belas instansi pendidikan negeri dan swasta di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta satu instansi dari Sorong.

Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Dra Labibah Zain, MLIS dalam sambutannya pada saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan workshop ini merupakan sebuah bentuk kreatifitas program perpustakaan dengan dana minimal. Meskipun demikian pihaknya berharap workshop OER ini sebagai upaya knowledge transfer yang dapat menjangkau banyak pihak yang berkompeten di bidang perpustakaan untuk belajar bersama dan menyerap banyak pengetahuan dari narasumber.(Ist)

Workshop Peningkatan Kapasitas Soft Skill Pengelola Perpustakaan IAIN Kediri

Tantangan baru perpustakaan ke depan berupa pelayanan yang lebih kreatif, manusiawi, dan unggul sehingga dapat diterima dengan baik oleh penggunanya. Keseluruhan itu semua memerlukan sebuah kemampuan dari pengelola peprustakaan. Salah satunya apa yang dikenal dengan istilah softskill. Soft skill ini menekankan kepada kemampuan pengelola perpustakaan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna. Seseorang dengan kemampuan soft skill yang baik memeiliki karakter yang yang baik, komunikasi yang ramah dan pribadi yang tulus dalam melayani pengguna.

Untuk mencapai sioft skill yang mumpuni memerlukan sebuah pengetahuan dan pengalaman yang terarah. Salah satu upayanya dengan melakukan sebuah Workshop yang berupaya mengenalkan konsep soft skill dan bagiamana mengimplementasikannya dengan baik di perpustakaan. Kegiatan ini bertujuan memberikan bekal kepada pengelola perpustakaan dalam mengembangkan softskill layanan perpustakaan. Dengan kemampuan softskill diharapkan dapat meningkatkan peran dan fungsi perpustakaan secara lebih baik bagi penggunanya.

Sesi pertama kegiatan Workshop yang dilaksanakan pada hari selasa tanggal 23 Oktober 2018 ini diisi dengan peningkatan profesionalisme pustakawan dengan memberikan pengetahuan tentang tugas pokok dan fungsi pustakawan. Pustakawan harus menjadi pustakawan yang cerdas dalam menyiasati antara profesionalisme pekerjaan dengan reporting sebagai tuntutan administrasi pustakawan. Pustakawan harus mampu melayani pemustaka dengan baik sekaligus juga harus mampu menyelesaikan kegiatan-kegiatan administratif dalam rangka pengajuan Daftar Usulan Angka Kredit yang berimbas pada kenaikan jabatan seorang pustakawan. pada sesi ini, Bapak Muhammad Mansur selaku pemateri memberikan tips dan trik dalam rangka pemenuhan kebutuhan pengajuan DUPAK tanpa harus meninggalkan pekerjaan rutin yang dibebankan kepada seorang pustakawan. pada sesi kedua, Bapak Ilham Mashuri (pemateri) menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan soft skil penulisan yang nantinya menjadi bekal bagi pustakawan untuk menjalani profesinya sebagai pustakawan.

APPTIS Peduli Palu

Bpk/Ibu yang Budiman, APPTIS turut berduka atas musibah Gempa dan Tsunami di Palu dan sekitarnya. Sebagai wujud kepedulian maka APPTIS kembali membuka kesempatan kepada bpk/Ibu untuk membantu meringankan korban gempa dengan memberikan donasi melalui kegiatan “APPTIS Peduli”. bagi yang hendak memberikan donasinya dapat dikirim melalui rekening an. Komarudin di BRI Cabang Kediri dengan Nomor 0033-01-037606-507. Demikian kami sampaikan semoga Alloh SWT memberikan kelapangan rezeki bagi kita semuanya.

USER EDUCATION DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG

Kegiatan user education di perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang berlangsung dari tanggal 27 Agustus s/d 7 September 2018. Dalam satu hari kegiatan ini dilaksanakan 5 sesi yang dibagi berdasarkan jurusan, untuk jurusan yang jumlahnya banyak dibagi lagi dalam beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari 100 peserta. Peserta kegiatan ini adalah mahasiswa baru dari berbagai fakultas di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang yang berjumlah  4.616 orang. Pemateri kegiatan ini adalah pustakawan dan dosen ilmu perpustakaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Rektor I Dr. Ismail Sukardi, M.Ag. Dalam kata sambutannya Bapak Ismail memberikan motivasi kepada mahasiswa baru untuk menjadi mahasiswa yang berkarakter, unggul dan sukses. Indikator sukses menurut beliau  adalah : 1. Studi selesai tepat waktu (4 tahun atau 8 semester) 2. IPK minimal 3,01 setiap semester, 3. Mampu berbahasa Asing 4. Berkarakter dan Berkinerja baik, 5. Memiliki Soft Skill, 6. Menguasai ICT (Information, Comunication, Tekhnology). Untuk menjadi mahasiswa yang  sukses: pertama, Memiliki Keahlian Berkomunikasi, Kedua, Keahlian Berkolaborasi/Kerjasama, Ketiga, cara Berfikir yang Baik, keempat, Mampu memecahkan masalah, lanjut beliau.

Kepala perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Nurmalina S.Ag.SS. M.Hum. melaporkankan bahwa tujuan dari kegiatan ini  adalah pertama mengenalkan perpustakaan kepada mahasiswa baru, diharapkan dengan mereka tahu keberadaan perpustakaan mereka akan rajin berkunjung ke perpustakaan. Kedua, Setelah mereka mengenal perpustakaan, mereka bisa mengakses dan menggunakan fasilitas yang disediakan perpustakaan. Ketiga, mereka bisa menemukan informasi yang dibutuhkan untuk membantu proses perkuliahan  sehingga mereka bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan.

Sebagai penutup laporannya kepala perpustakaan menyampaikan bahwa kegiatan ini   juga sebagai upaya untuk mewujudkan peran perpustakaan dalam menunjang tri dharma perguruan tinggi dan berharap  semua peserta untuk rajin berkunjung ke perpustakaan.

 

APPTIS “Peduli” Lombok

Gempa bumi tektonik yang mengguncang Lombok, Bali dan Sumbawa terjadi pada hari Minggu, 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 skala richter di kedalaman 25 km. Gempa tersebut kemudian diikuti dengan guncangan gempa bumi susulan bertubi-tubi. Hingga hari Senin pukul 10.00 WIB, telah terjadi 280 kali gempa susulan dengan magnitude (kekuatan gempa) yang lebih kecil. Tercatat korban yang meninggal dunia berjumlah 17 orang, 401 orang luka-luka, dan lebih dari 10.062 orang mengungsi di 13 titik pengungsian karena gempa tersebut. Sementara  bangunan rusak terdata berjumlah 5.448 unit.

Namun gempa bermagnitudo 6,4 skala richter pada hari Minggu 29 Juli 2018 ternyata adalah fore shock (gempa awalan). Saat masyarakat Lombok belum pulih dari traumanya, dan pemerintah daerah baru berbenah untuk meluncurkan program-program rehabilitasi dan rekonstruksinya, saat para donatur dan relawan masih berada di kamp-kamp pengungsi untuk memberikan bantuan, gempa yang lebih besar bermagnitudo 7.0 skala richter terjadi seminggu kemudian (Minggu, 5 Agustus 2018).

Gempa-gempa susulan yang terjadi setelah main shock menambah trauma para pengungsi dan penduduk Lombok. BMKG bahkan mencatat bahwa telah terjadi 576 gempa susulan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat hingga Minggu (12 Agustus 2018) sejak main shock 7.0 skala richter terjadi.

Jumlah korban gempa yang tercatat pada hari Senin, 13 Agustus 2018, meningkat drastis. Korban meninggal (sebagian besar akibat tertimpa bangunan roboh) sebanyak 436 orang, korban luka yang dirawat mencapai 1.353 orang, dan 352.793 orang mengungsi. Kerugian ditaksir mencapai Rp. 5,04 triliun.

Dwikorita Karnawati (Kepala BMKG Pusat) menerangkan bahwa gempa bumi yang terjadi di Lombok adalah gempa bumi dangkal yang diakibatkan oleh  aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust). Namun pemicu gempa tersebut adalah deformasi batuan (endapan) vulkanik  dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Walaupun masih akan ada gempa-gempa susulan selama beberapa minggu ke depan dengan kekuatan gempa yang fluktuatif, Dwikorita menyatakan bahwa energi terkuat telah selesai. Sehingga walaupun masyarakat Lombok masih harus tetap waspada, namun sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Bantuan untuk para pengungsi dan korban gempa berdatangan, baik secara individu, maupun dari organisasi, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Diantaranya adalah dari APPTIS. Sebagai Forum kerjasama antar Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam, APPTIS merasa terpanggil untuk membantu korban bencana gempa bumi di pulau seribu mesjid.

Komunitas perpustakaan perguruan tinggi di bawah naungan Kemenag ini juga aktif menggalang dana bantuan dari pihak lain. Sumbangan-sumbangan tersebut kemudian dibelikan berbagai perlengkapan kebutuhan pengungsi, seperti tikar, terpal, beras, minyak, susu dan popok bayi, alat mandi, obat-obatan, dan mie instan. Perlengkapan tersebut kemudian dibawa ke desa Penyambuan dan desa Gangga, dua desa yang ada di Kabupaten Lombok Utara yang terdampak gempa serius. Di daerah ini 90% bangunan roboh, dengan jumlah pengungsi sekitar 400an jiwa lebih.

Saat serah terima bantuan, Fahrurrizi, S.Sos. (pustakawan UIN Mataram), menyampaikan salam hangat dari teman-teman APPTIS, dan harapan agar sumbangan yang diberikan dapat meringankan beban para pengungsi di kedua desa yang terdampak.

Walaupun rangkaian gempa bumi Lombok belum bisa diketahui kapan akan berakhir, namun semangat saling membantu yang ditunjukkan oleh anggota APPTIS menunjukkan pesan tersirat. Pesan tersebut adalah bencana bisa datang dimana saja dan kapan saja, namun selama kita merasa satu iman, bersaudara, dan saling berempati, maka pertolongan bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja.

 

Salam hangat kami dari Lombok…

      

Reported by : Rika Kurniawaty (Pustakawan UIN Mataram)