Pengendalian Diri Saat Puasa


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)

 Secara piqih puasa merupakan menahan diri dari hal-hal yang dapat  membatalkannya di mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

 Pada dasarnya puasa sebagai media untuk melatih diri agar manusia memiliki kemampuan mengendalikan diri  atau mengendalikan hawa nafsu. Pada umunya manusia butuh perjuangan untuk mengendalikan diri. Dengan contoh yang sangat baik Al-Qur’an mengisahkan bagaimana Adam di tempatkan Allah bersama Istrinya dengan segala fasilitas kenikmatan yang telah tersedia. Bahwa drama kosmis kejatuhan Adam dari surga ke dunia dilatar belakangi oleh ketidak mampuan Adam mengendalikan dirinya, terutama sifat rakus (tamak).

 Dalam bahasa Al-Qur’an peristiwa ini disebut dengan hubut. Allah SWT berfirman:

 Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (Al-Baqarah [2]: 36)

 Dari ayat tersebut dapat di analisis bahwa orang yang tidak mampu mengendalikan diri dari godaan hawa nafsu akan mengalami kejatuhan moral- spiritual. Oleh sebab itu, keberhasilan Ramadhan akan terlihat pada kemampuan setiap orang yang berpuasa dalam mengendalikan dirinya. Ia tidak akan pernah memperturutkan hawa nafsunya yang cendrung mendorong manusia untuk melakukan kemaksiatan. Sebaliknya, ia lebih memberi kesempatan pada nafsu, qalbu, dan ru’yu-nya untuk menjelajahi keangkasa raya untuk melihat kebesaran-kebesaran Allah SWT.

 Sejatinya, Ramadhan melahirkan manusia yang memiliki orientasi hidup yang bersifat ilahiyah. Bukan manusia yang berorientasi dunawiyah yang hidupnya sebatas hanya untuk memenuhi kebutuhan fa’ali seperti makan, harta dan jabatan saja, tetapi manusia yang berfikir jauh kedepan, yaitu kebahagiaan dan keselamatan di akhirat yang bersifat Abadan-abada. Sebagai akhir dari tausiyah yang singkat ini, semoga kita semua menjadi ummat muslim yang bahagia di dunia maupun di akhirat. Amien ya Raabbal Aaalamin.


Nasri Kurnialloh, lahir di Bekasi 12 Juli 1988. Masa kecil dihabiskan di lereng gunung Galunggung Tasikmalaya . Karya tulis yang telah berhasil terbit dalam bentuk cetak diantaranya di Majalah Kampus dan Jurnal Kependidikan Islam. Selain itu pula aktif menulis di media online seperti Bloger Bekasi (Milik PEMKOT Bekasi), kompasiana.com dll. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Kependidikan Islam, tinggal di Komplek POLRI Gowok B.2/49 Caturtunggal, Depok, Sleman Yogyakarta. Alamat email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . CP. 085747882321/085223221940